Belajar Dari Masa Lalu Tuk Manggapai Masa Depan yang Indah

Latest

Aside

Masa Demokrasi Terpimpin

 

BAB I
PENDAHULUAN

  1.     LATAR BELAKANG

Sejarah panjang perjuangan dan melelahkan pada akhirnya membuahkan kemerdekaan pada tanggal 17 agustus 1945 dengan keputusan rakyat Indonesia sendiri setelah kemerdekaan yang dijanjikan jepang tak kunjung datang. Sejarahpun berlanjut, tiga sistem politik yang berbeda, masing masing mengatasnamakan “Demokrasi” telah di coba di tegakkan selama lebih kurang setengah abad terakhir.

Segera setelah Indonesia merdeka, Indonesia mencoba sistem Demokrasi parlementer yang di kemudian hari dianggap terlalu “Liberal”, kemudian menjelang dekade 1950 an dicoba pula sistem politik dengan nama demokrasi terpimpin, yang ternyata bukan saja tidak Demokratis, melainkan dinilai cendrung mengarah kepada sistem Otoriterianisme, pada kurun waktu terpanjang sesudah itu di Indonesia diberlakukan “Demokrasi pancasila” di bawah orde Baru, yang berakhir pada tahun 1998,dan yang melahirkan Revormasi.

Demokrasi terpimpin adalah sebuah demokrasi yang sempat ada di Indonesia, yang seluruh keputusan serta pemikiran berpusat pada pemimpinnya saja. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai demokrasi terpimpin di Indonesia dan mudah-mudahan tidak lari jauh dari konteks sejarahnya. Dan dalam metode penulisan makalah ini penulis berusaha bersikap netral.

  1.      RUMUSAN MASALAH
  2. Apa yang melatar belakangi lahirnya demokrasi terpimpim ?
  3. Bagaimana perkembangan ekonomi pada masa demokrasi terpimpin ?
  4. Bagaimana perkembangan politik pada masa demokrasi terpimpin ?
  5. Bagaimana perkembangan sosial dan budaya pada masa demokrasi terpimpin ?
  6.     TUJUAN
  7. Untuk mengetahui latar belakang lahirnya demokrasi terpimpin.
  8. Untuk mengetahui perkembangan ekonomi pada masa demokrasi terpimpin.
  9. Untuk mengetahui perkembangan politik pada masa demokrasi terpimpin.
  10. Untuk mengetahui perkembangan sosial budaya pada masa demokrasi terpimpin.

BAB II

PEMBAHASAN

  1.     LATAR BELAKANG LAHIRNYA DEMOKRASI TERPIMPIN

Demokrasi Terpimpin berlaku di Indonesia antara tahun 1959-1966, yaitu dari dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 hingga jatuhnya kekuasaan Sukarno. Latar belakang dicetuskannya sistem Demokrasi Terpimpin oleh Presiden Soekarno :

  1. Dari segi keamanan : Banyaknya gerakan sparatis pada masa Demokrasi Liberal, menyebabkan ketidakstabilan di bidang keamanan.
  2. Dari segi perekonomian  : Sering terjadinya pergantian kabinet pada masa Demokrasi Liberal menyebabkan program-program yang dirancang oleh kabinet tidak dapat dijalankan secara utuh, sehingga pembangunan ekonomi tersendat.
  3. Dari segi politik : Konstituante gagal dalam menyusun UUD baru untuk menggantikan UUDS 1950.

Masa Demokrasi Terpimpin yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno diawali oleh anjuran beliau agar Undang-Undang yang digunakan untuk menggantikan UUDS 1950 adalah UUD’45. Namun usulan itu menimbulkan pro dan kontra di kalangan anggota konstituante. Sebagai tindak lanjut usulannya, diadakan voting yang diikuti oleh seluruh anggota konstituante. Voting ini dilakukan dalam rangka mengatasi konflik yang timbul dari pro kontra akan usulan Presiden Soekarno tersebut.

Hasil voting menunjukan bahwa :

  • 269 orang setuju untuk kembali ke UUD’45
  • 119 orang tidak setuju untuk kembali ke UUD’45

Melihat dari hasil voting, usulan untuk kembali ke UUD’45 tidak dapat direalisasikan. Hal ini disebabkan oleh jumlah anggota konstituante yang menyetujui usulan tersebut tidak mencapai 2/3 bagian, seperti yang telah ditetapkan pada pasal 137 UUDS 1950. Bertolak dari hal tersebut, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 :

  1. Tidak berlaku kembali UUDS 1950
  2. Berlakunya kembali UUD 1945
  3. Dibubarkannya konstituante
  4. Pembentukan MPRS dan DPA

Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden, Kabinet Djuanda dibubarkan dan pada tanggal 9 Juli 1959 diganti dengan Kabinet Kerja. Program Kabinet meliputi keamanan dalam negeri, pembebasan Irian Jaya, dan sandang pangan. Dengan Penetapan Presiden No.2 tahun 1959, dibentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), yang anggota-anggotanya ditunjuk dan diangkat oleh Presiden dengan memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:

  1.       Setuju kembali kepada UUD 1945
  2.       Setia kepada perjuangan RI, dan
  3.       Setuju dengan Manifesto Politik.

Keanggotaan MPRS terdiri atas anggota-anggota DPR ditambah dengan utusan-utusan dari daerah dan wakil-wakil golongan. Tugas MPRS adalah menetapkan garis-garis besar haluan negara sesuai pasal 2 UUD 1945.

Presiden juga membentuk Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang diketuai oleh Presiden sendiri, mempunyai kewajiban memberi jawab atas pertanyaan Presiden dan berhak mengajukan usul kepada Pemerintah (pasal 16 ayat 2 UUD 1945). DPA dilantik pada tanggal 15 Agustus 1959. DPR hasil Pemilihan Umum tahun 1955 tetap menjalankan tugasnya dengan landasan UUD 1945 dan dengan menyetujui segala perombakan yang dilakukan oleh pemerintah, sampai tersusun DPR baru. Semula nampaknya anggota DPR lama akan mengikuti saja kebijaksanaan Presiden Sukarno, akan tetapi ternyata kemudian mereka menolak Anggaran Belanja Negara tahun 1960 yang diajukan oleh pemerintah. Penolakan Anggaran Belanja Negara tersebut menyebabkan dikeluarkannya Penetapan Presiden No.3 tahun 1960, yang menyatakan pembubaran DPR hasil Pemilihan Umum tahun 1955. Tindakan itu disusul dengan usaha pembentukan DPR baru. Dan pada tanggal 24 Juni 1960 Presiden Sukarno telah selesai menyusun komposisi DPR baru yang diberi nama Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR). Para anggota DPR-GR yang baru itu dilantik pada tanggal 25 Juni 1960. Komposisi DPR-GR terdiri dari anggota golongan Nasionalis, Islam, dan Komunis dengan perbandingan 44:43:30. Peraturan-peraturan dan tata-tertibnya juga ditetapkan oleh Presiden. Tugas DPR-GR adalah melaksanakan Manipol, merealisasikan Amanat Penderitaan Rakyat, dan melaksanakan Demokrasi Terpimpin. Pada tanggal 5 Januari 1961 Presiden Sukarno menjelaskan lagi kedudukan DPR-GR yaitu bahwa DPR-GR adalah pembantu Presiden/Mandataris MPRS dan memberi sumbangan tenaga kepada Presiden untuk melaksanakan segala sesuatu yang ditetapkan oleh MPRS.

Presiden Sukarno pada upacara bendera Hari Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1959 mengucapkan pidato yang berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita. Dalam sidangnya pada bulan September 1959, DPA dengan suara bulat mengusulkan kepada pemerintah agar pidato Presiden tanggal 17 Agustus tersebut dijadikan garis-garis besar haluan negara, dan dinamakan Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol). Usul DPA itu diterima baik oleh Presiden Sukarno. Dan pada sidangnya pada tahun 1960, MPRS menetapkan Manifesto Politik itu menjadi Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dalam Ketetapan itu diputuskan pula, bahwa pidato Presiden tanggal 17 Agustus 1960 dengan judul: “Jalannya Revolusi Kita” dan Pidato Presiden tanggal 30 September di muka Sidang Umum PBB yang berjudul To build the world anew (Membangun dunia kembali) merupakan pedoman-pedoman pelaksanaan Manifesto Politik. Terhadap perkembangan politik itu pernah ada reaksi dari kalangan partai-partai, antara lain dari beberapa pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) dan dari PNI. Reaksi juga datang dari Prawoto Mangkusasmito (Masyumi) dan Sutomo (Bung Tomo) dari Partai Rakyat Indonesia. Sutomo mengajukan pengaduan kepada Mahkamah Agung dengan suratnya tanggal 22 Juni 1960. Sutomo menuduh kabinet bertindak sewenang-wenang dan mengemukakan beberapa fakta sebagai berikut:

  1. Paksaan untuk menerima Manipol dan Usdek, tanpa diberi tempo terlebih dahulu untuk mempelajarinya;
  2. Paksaan supaya diadakan kerja sama antara golongan Nasionalis, Agama, dan Komunis;
  3. Paksaan pembongkaran Tugu Gedung Proklamasi Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Memang di kalangan partai-partai terdapat variasi sikap dan pendapat. Pelbagai tokoh partai menggabungkan diri dalam Liga Demokrasi yang menentang pembentukan DPR-GR. Liga Demokrasi diketuai oleh Imron Rosyadi dari NU, tergabung beberapa tokoh NU, Parkindo, Partai Katholik, Liga Muslim, PSII, IPKI, dan Masyumi. Pada akhir bulan Maret 1960 Liga tersebut mengeluarkan satu pernyataan yang antara lain menyebutkan: supaya dibentuk DPR yang demokratis dan konstitusional. Oleh sebab itu, hendaknya rencana pemerintah untuk membentuk DPR-GR yang telah diumumkan tersebut, ditangguhkan. Adapun sebagai alasan dikemukakan antara lain:

  1. Perubahan perimbangan perwakilan golongan-golongan dalam DPR-GR, memperkuat pengaruh dan kedudukan suatu golongan tertentu.
  2. DPR yang demikian pada hakekatnya adalah DPR yang hanya akan meng-ia-kan saja, sehingga tidak dapat menjadi soko guru negara hukum dan demokrasi yang sehat.
  3. Pembaharuan dengan cara pengangkatan sebagaimana yang dipersiapkan itu adalah bertentangan dengan azas-azas demokrasi yang dijamin oleh undang-undang.

Kegiatan Liga Demokrasi tersebut hanya nampak pada waktu Presiden Sukarno berada di luar negeri. Setibanya Presiden di tanah air, beliau segera melarang Liga Demokrasi. Tindakan Presiden Sukarno selanjutnya adalah mendirikan Front Nasional, yaitu suatu organisasi massa yang memperjuangkan cita-cita Proklamasi dan cita-cita yang terkandung dalam UUD 1945. Front Nasional itu diketuai oleh Presiden Sukarno sendiri. Presiden juga membentuk Musyawarah Pembantu Pimpinan Revolusi (MPPR). MPPR beserta stafnya merupakan badan pembantu Pemimpin Besar Revolusi (PBR), dalam mengambil kebijaksanaan khusus dan darurat untuk menyelesaikan revolusi. Keanggotaan MPPR terdiri dari sejumlah menteri yang mewakili MPRS dan DPR-GR, departemen-departemen, angkatan-angkatan dan wakil dari organisasi Nasakom. Badan ini langsung berada di bawah Presiden.

Dalam periode Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin, Partai Komunis Indonesia (PKI) berusaha menempatkan dirinya sebagai golongan yang menerima Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Kekuatan politik pada waktu itu terpusat di tangan Presiden Sukarno dengan TNI-AD dan PKI di sampingnya. Sehubungan dengan strateginya yang “menempel” pada Presiden Sukarno, PKI secara sistematis berusaha memperoleh citra sebagai Pancasilais dan mendukung ajaran-ajaran Presiden Sukarno yang menguntungkannya.

TNI-AD mensinyalir adanya tindakan-tindakan pengacauan yang dilakukan PKI di Jawa Tengah (PKI malam).  TNI pun bertindak dengan melakukan pengawasan terhadap PKI, namun Presiden Sukarno justru memerintahkan agar segala keputusan itu dicabut kembali. Pidato-pidato Presiden Sukarno yang berjudul Resopim, Takem, Gesuri, Tavip, Takari jelas menggambarkan sikap politik Presiden Sukarno yang cenderung kepada TKI dan membuat PKI untuk menyudutkan TNI-AD sebagai pihak yang sumbang suaranya. Puncak dari kegiatan PKI adalah meletusnya Pemberontakan G 30 S/PKI.

  1.      PERKEMBANGAN EKONOMI PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN
  2.       Ekonomi-Keuangan

Untuk merencanakan pembangunan ekonomi, pada tahun 1958 dibentuk undang-undang mengenai pembentukan Dewan Perancang Nasional. Tugasnya adalah:

                               I.            Mempersiapkan rancangan undang-undang Pembangunan Nasional yang berencana; (pasal 2)

                            II.            Menilai penyelenggara pembangunan itu (pasal 3)

Selanjutnya pada tanggal 15 Agustus 1959 terbentuklah Dewan Perancang Nasional (Depernas) di bawah pimpinan Mr. Muh Yamin sebagai Wakil Menteri Pertama yang beranggotakan 80 orang wakil golongan masyarakat dan daerah. Dalam waktu kurang lebih satu tahun, Depernas berhasil menyusun suatu “Rancangan Dasar Undang-Undang Pembangunan Nasional Sementara Berencana tahapan tahun 1961-1969.” MPRS menyetujui rancangan tersebut.

Pada tahun 1963, Dewan Perancang Nasional diganti dengan Badan Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dipimpin oleh Presiden Sukarno. Dalam rangka usaha membendung inflasi maka dikeluarkan kebijakan :

  1. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.2 Tahun 1959 yang mulai berlaku tanggal 25 Agustus 1959. Peraturan itu dimaksudkan untuk mengurangi banyaknya uang dalam peredaran untuk kepentingan perbaikan keadaan keuangan dan perekonomian negara. Untuk mencapai tujuan itu nilai uang kertas pecahan Rp.500,- dan Rp.1000,- yang ada dalam peredaran pada saat berlakunya peraturan itu diturunkan masing-masing menjadi Rp.50,- dan Rp.100,-.
  2. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.3 tahun 1959 tentang pembekuan sebagian dari simpanan pada bank-bank yang dimaksudkan untuk mengurangi banyaknya uang dalam peredaran, yang terutama dalam tahun 1957 dan 1958 sangat meningkat jumlahnya.

Peraturan moneter tanggal 25 Agustus 1959 diakhiri dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.6/1959, yang isi pokoknya ialah ketentuan bahwa bagian uang lembaran seribu rupiah dan lima ratus rupiah yang masih berlaku (dan yang kini bernilai seratus rupiah dan lima puluh rupiah) harus ditukar dengan uang kertas bank baru sebelum tanggal 1 Januari 1960. Untuk menampung akibat-akibat dari tindakan moneter dari bulan Agustus 1959 dibentuklah Panitia Penampung Operasi Keuangan (P POK). Tugas pokok dari panitia ini ialah menyelenggarakan tindak lanjut dari tindakan moneter itu, tanpa mengurangi tanggung jawab menteri, departemen, dan jawatan yang bersangkutan.

Akibat utama dari tindakan moneter yang dilakukan oleh pemerintah ialah terjadinya kesukaran likuiditas di semua faktor, baik sektor pemerintah maupun sektor swasta. Keadaan ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk mengadakan penertiban dari segala kegiatan pemerintah dan swasta yang sebelumnya seolah-olah tidak terkendalikan. Untuk tujuan itu pemerintah menginstruksikan :

  1. Penghematan bagi instansi pemerintah serta memperketat pengawasan atas pelaksanaan anggaran belanja.
  2. Dilakukan penertiban manajemen dan administrasi perusahaan-perusahaan negara, baik yang sudah lama ada, maupun yang baru diambil alih dari pihak Belanda.

Dengan tindakan moneter tanggal 25 Agustus 1959 itu, pemerintah bertujuan akan dapat mengendalikan inflasi dan mencapai keseimbangan dan kemantapan moneter dengan menghilangkan excess liquidity dalam masyarakat. Hal itu diusahakan dengan menyalurkan uang dan kredit baru ke bidang-bidang usaha yang dipandang penting bagi kesejahteraan rakyat dan pembangunan. Tetapi pada akhir tahun 1959 itu juga, jadi hanya 4 bulan lebih sedikit setelah dilakukan tindakan moneter tersebut, dapat diketahui bahwa pemerintah mengalami kegagalan. Semua tindakan-tindakan moneter itu tidak mencapai sasarannya karena pemerintah tidak mempunyai kemauan politik untuk menahan diri dalam pengeluaran-pengeluarannya. Misalnya saja menyelenggarakan proyek mercu-suar seperti Ganefo (Games of the New Emerging Forces) dan Conefo (Conference of The New Emerging Forces).

Sejak tahun 1961, Indonesia terus-menerus membiayai kekurangan neraca pembayarannya dari cadangan emas dan devisa. Pada akhir tahun 1965, untuk pertama kali dalam sejarah moneternya, Indonesia sudah habis membelanjakan cadangan emas dan devisanya, yang memperlihatkan saldo negatif sebesar US $ 3 juta sebagai akibat politik konfrontasi terus-menerus yang dilakukan. Tingkat kenaikan harga-harga paling tinggi terjadi dalam tahun 1965 (antara 200%-300% dari harga tahun 1964).

Presiden Sukarno menganggap perlu untuk mengintegrasikan semua Bank Negara ke dalam suatu organisasi Bank Sentral. Untuk itu dikeluarkan Penetapan Presiden No.7 tahun 1965 tentang Pendirian Bank Tunggal Milik Negara. Tugas bank tersebut adalah menjalankan aktivitas-aktivitas bank sirkulasi, bank sentral dan bank umum. Maka kemudian diadakan peleburan bank-bank negara seperti: Bank Koperasi dan Nelayan (BKTN); Bank Umum Negara; Bank Tabungan Negara; Bank Negara Indonesia ke dalam Bank Indonesia. Sesudah pengintegrasian Bank Indonesia itu selesai, barulah dibentuk Bank Negara Indonesia. Bank Negara Indonesia tersebut dibagi dalam beberapa unit, yang masing-masing unit menjalankan pekerjaannya menurut aturan-aturan pendiriannya. Keadaan itu berlangsung terus sampai Bank Tunggal itu dibubarkan dengan berlakunya Undang-undang No.13 Tahun 1968.

  1.    Perkreditan dan Perdagangan Luar Negeri

Politik luar negeri pada masa Demokrasi Terpimpin di bidang perkreditan dan perdagangan hakekatnya tidak berbeda sifatnya dari sistem ijon dari petani-petani dan pengusaha-pengusaha kecil, hanya saja kredit luar negeri ini berskala nasional dan menyangkut hajat hidup seluruh rakyat Indonesia. Dalih perkreditan luar negeri pada masa ini adalah mengarrangement dan readjustment dengan negara-negara kreditor. Dan sementara itu masyarakat Indonesia pada umumnya masih beranggapan bahwa hutang adalah identik dengan penghasilan.

Perdagangan luar negeri antara Indonesia dengan negara lain misalnya dengan negara Cina. Perdagangan bilateral tersebut dijalin atas dasar Government to Government (G to G). Dalam perdagangan G to G ini RRC memperoleh keuntungan politik disamping keuntungan ekonomi yang tidak sedikit. Sebagai contoh perdagangan karet. Transaksi-transaksi karet rakyat Indonesia dengan RRC pada hakekatnya adalah pembelian bahan baku yang murah oleh RRC, yang kemudian dijual kembali sebagai barang jadi yang mahal ke Indonesia sebagai yang disebut bantuan luar negeri. Dalam hubungan ini adakalanya barang-barang yang bercap RRC seperti tekstil yang dikirim sebagai bantuan ke Indonesia bukan dibuat di RRC sendiri akan tetapi di Hongkong. Dalam hal ini disebut bantuan pada hakekatnya adalah hasil keuntungan RRC dari pembelian karet rakyat Indonesia. Maka jelaslah bahwa kebijaksanaan perdagangan dan perkreditan luar negeri yang dilakukan oleh pemerintah Orde Lama terutama selama 3 tahun terakhir telah membawa Indonesia ke dalam lingkungan pengaruh politik RRC sampai titik kulminasinya dalam pemberontakan G 30 S/PKI.

Dalam rangka usaha untuk membiayai proyek-proyek Presiden/Mandataris MPR-S, maka Presiden Sukarno mengeluarkan Instruksi Presiden No.018 tahun 1964 dan Keputusan Presiden No.360 tahun 1964, yang berisi ketentuan-ketentuan mengenai penghimpunan dan penggunaan “dana-dana revolusi”. Dana-dana revolusi tersebut pada mulanya diperoleh dari pungutan uang call SPP dan dari pungutan yang dikenakan pada pemberian izin impor dengan deferred payment. Deferred payment ialah suatu macam impor yang dibayar dengan kredit (kredit berjangka 1-2 tahun) karena tidak cukup persediaan devisa. Dalam praktek, barang-barang yang diimpor dengan menggunakan deferred payment khusus itu adalah barang-barang yang tidak membawa manfaat bagi rakyat banyak, bahkan sebaliknya merupakan barang-barang yang sudah dijadikan bahan spekulasi dalam perdagangan, misalnya scooter dan barang-barang lux lainnya. Pada umumnya yang mendapat izin deferred payment ini adalah yang disponsori oleh Presiden Sukarno sendiri. Akibat kebijaksanaan kredit luar negeri ini adalah:

a)      Hutang-hutang negara semakin bertimbun-timbun, sedangkan ekspor semakin menurun terus.

b)      Devisa menipis karena ekspor menurun sekali.

c)      Hutang luar negeri dibayar dengan kredit baru atau pembayaran itu ditangguhkan.

d)     RI tidak mampu lagi membayar tagihan-tagihan dari luar negeri, yang mengakibatkan adanya insolvensi internasional. Karena itu, sering terjadi bahwa beberapa negara menyetop impornya ke Indonesia karena hutang-hutang tidak dibayar.

e)      Di dalam negeri berakibat mengganggu proses produksi, distribusi dan perdagangan serta menimbulkan kegelisahan di kalangan penduduk.

Menteri Bank Sentral, Jusuf Muda Dalam diberikan kuasa untuk mengelola “dana revolusi” itu. Dana revolusi tersebut diberikan dalam bentuk kredit kepada orang lain atau perusahaan dengan rente tertentu agar jumlah dana bertambah terus. Namun, pemberian kredit tersebut menyimpang dari pemberian kredit biasa sampai kira-kira mencapai jumlah Rp 338 milyar (uang lama). Hal ini mengakibatkan inflasi meningkat sangat tinggi karena pemerintah sama sekali tidak mengindahkan jumlah uang yang beredar. Bank Indonesia diizinkan untuk mengadakan penyertaan dalam perusahaan, sehingga membawa akibat yang cukup luas bagi masyarakat:

a)      Bank Indonesia sebagai Bank Sentral tidak dapat lagi menjalankan fungsinya sebagai pengantar peredaran uang.

b)      Neraca Bank Indonesia tidak dapat diketahui oleh rakyat lagi.

c)      Neraca Bank Indonesia yang tidak diumumkan mendorong usaha-usaha spekulasi dalam bidang ekonomi dan perdagangan.

  1.     PERKEMBANGAN POLITIK PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN

Soekarno dengan konsep Demokrasi Terpimpinnya menilai Demokrasi Barat yang bersifat liberal tidak dapat menciptakan kestabilan politik. Menurut Soekarno, penerapan sistim Demokrasi Barat menyebabkan tidak terbentuknya pemerintahan kuat yang dibutuhkan untuk membangun Indonesia. Pandangan Soekarno terhadap sistem liberal ini pada akhirnya berpengaruh terhadap kehidupan partai politik di Indonesia. Partai politik dianggap sebagai sebuah penyakit yang lebih parah daripada perasaan kesukuan dan kedaerahan. Penyakit inilah yang menyebabkan tidak adanya satu kesatuan dalam membangun Indonesia. Partai-partai yang ada pada waktu itu berjumlah sebanyak 40 partai dan ditekan oleh Soekarno untuk dibubarkan. Namun demikian, Demokrasi Terpimpin masih menyisakan sejumlah partai untuk berkembang. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan Soekarno akan keseimbangan kekuatan yang labil dengan kalangan militer. Beberapa partai dapat dimanfaatkan oleh Soekarno untuk dijadikan sebagai penyeimbang.

Pada masa Demokrasi Terpimpin, parlemen sudah tidak mempunyai kekuatan yang nyata. Sementara itu partai-partai lainnya dihimpun oleh Soekarno dengan menggunakan suatu ikatan kerjasama yang didominasi oleh sebuah ideologi. Dengan demikian partai-partai itu tidak dapat lagi menyuarakan gagasan dan keinginan kelompok-kelompok yang diwakilinya. Partai politik tidak mempunyai peran besar dalam pentas politik nasional dalam tahun-tahun awal Demokrasi Terpimpin. Partai politik seperti NU dan PNI dapat dikatakan pergerakannya dilumpuhkan karena ditekan oleh presiden yang menuntut agar mereka menyokong apa yang telah dilakukan olehnya. Sebaliknya, golongan komunis memainkan peranan penting dan temperamen yang tinggi. Pada dasarnya sepuluh partai politik yang ada tetap diperkenankan untuk hidup, termasuk NU dan PNI, tetapi semua wajib menyatakan dukungan terhadap gagasan presiden pada segala kesempatan serta mengemukakan ide-ide mereka sendiri dalam suatu bentuk yang sesuai dengan doktrin presiden.

Partai politik dalam pergerakannya tidak boleh bertolak belakang dengan konsepsi Soekarno. Penetapan Presiden (Penpres) adalah senjata Soekarno yang paling ampuh untuk melumpuhkan apa saja yang dinilainya menghalangi jalannya revolusi yang hendak dibawakannya. Demokrasi terpimpin yang dianggapnya mengandung nilai-nilai asli Indonesia dan lebih baik dibandingkan dengan sistim ala Barat, ternyata dalam pelaksanaannya lebih mengarah kepada praktek pemerintahan yang otoriter. Dewan Perwakilan Rakyat hasil pemilihan umum tahun 1955 yang didalamnya terdiri dari partai-partai pemenang pemilihan umum, dibubarkan. Beberapa partai yang dianggap terlibat dalam pemberontakan sepanjang tahun 1950an, seperti Masyumi dan PSI, juga dibubarkan dengan paksa. Bahkan pada tahun 1961 semua partai politik, kecuali 9 partai yang dianggap dapat menyokong atau dapat dikendalikan, dibubarkan pula.

Dalam penggambaran kiprah partai politik di percaturan politik nasional, maka ada satu partai yang pergerakan serta peranannya begitu dominan yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada masa itu kekuasaan memang berpusat pada tiga kekuatan yaitu, Soekarno, TNI-Angkatan Darat, dan PKI. Oleh karena itu untuk mendapatkan gambaran mengenai kehidupan partai politik pada masa demokrasi terpimpin, pergerakan PKI pada masa ini tidak dapat dilepaskan.

PKI di bawah pemimpin mudanya, antara lain Aidit dan Nyoto, menghimpun massa dengan intensif dan segala cara, baik secara etis maupun tidak. Pergerakan PKI yang sedemikian progresifnya dalam pengumpulan massa membuat PKI menjadi sebuah partai besar pada akhir periode Demokrasi Terpimpin. Pada tahun 1965, telah memiliki tiga juta orang anggota ditambah 17 juta pengikut yang menjadi antek-antek organisasi pendukungnya, sehingga di negara non-komunis, PKI merupakan partai terbesar.

Hubungan antara PKI dan Soekarno sendiri pada masa Demokrasi Terpimpin dapat dikatakan merupakan hubungan timbal balik. PKI memanfaatkan popularitas Soekarno untuk mendapatkan massa. Pada bulan Mei 1963, MPRS mengangkatnya menjadi presiden seumur hidup. Keputusan ini mendapat dukungan dari PKI. Sementara itu di unsur kekuatan lainnya dalam Demokrasi Terpimpin, TNI-Angkatan Darat, melihat perkembangan yang terjadi antara PKI dan Soekarno, dengan curiga. Terlebih pada saat angkatan lain, seperti TNI-Angkatan Udara, mendapatkan dukungan dari Soekarno. Hal ini dianggap sebagai sebuah upaya untuk menyaingi kekuatan TNI-Angkatan Darat dan memecah belah militer untuk dapat ditunggangi. Keretakan hubungan antara Soekarno dengan pemimpin militer pada akhirnya muncul. Keadaan ini dimanfaatkan PKI untuk mencapai tujuan politiknya. Sikap militan yang radikal yang ditunjukkan PKI melalui agitasi dan tekanan-tekanan politiknya yang semakin meningkat, membuat jurang permusuhan yang terjadi semakin melebar. Konflik yang terjadi itu kemudian mencapai puncaknya pada pertengahan bulan September tahun 1965.

Seperti yang telah disebutkan di atas, partai politik pada masa Demokrasi Terpimpin mengalami pembubaran secara paksa. Pembubaran tersebut pada umumnya dilakukan dengan cara diterapkannya Penerapan Presiden (Penpres) yang dikeluarkan pada tanggal 31 Desember 1959. Peraturan tersebut menyangkut persyaratan partai, sebagai berikut:

  1. Menerima dan membela Konstitusi 1945 dan Pancasila.
  2. Menggunakan cara-cara damai dan demokrasi untuk mewujudkan cita-cita politiknya.
  3. Menerima bantuan luar negeri hanya seizin pemerintah.
  4. Partai-partai harus mempunyai cabang-cabang yang terbesar paling sedikit di seperempat jumlah daerah tingkat I dan jumlah cabang-cabang itu harus sekurang-kurangnya seperempat dari jumlah daerah tingkat II seluruh wilayah Republik Indonesia.
  5. Presiden berhak menyelidiki administrasi dan keuangan partai.
  6. Presiden berhak membubarkan partai, yang programnya diarahkan untuk merongrong politik pemerintah atau yang secara resmi tidak mengutuk anggotanya partai, yang membantu pemberontakan.

Sampai dengan tahun 1961, hanya ada 10 partai yang diakui dan dianggap memenuhi prasyarat di atas. Melalui Keppres No. 128 tahun 1961, partai-partai yang diakui adalah PNI, NU, PKI, Partai Katolik, Partai Indonesia, Partai Murba, PSII dan IPKI. Sedangkan Keppres No. 129 tahun 1961 menolak untuk diakuinya PSII Abikusno, Partai Rakyat Nasional Bebasa Daeng Lalo dan partai rakyat nasional Djodi Goondokusumo. Selanjutnya melalui Keppres No. 440 tahun 1961 telah pula diakui Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Persatuan Tarbiyah Islam (Perti).

Demikianlah kehidupan partai-partai politik di masa Demokrasi Terpimpin. Partai-partai tersebut hampir tidak bisa memainkan perannya dalam pentas perpolitikan nasional pada masa itu. Hal ini dimungkinkan antara lain oleh peran Soekarno yang amat dominan dalam menjalankan pemerintahannya dengan cirinya utamanya yang sangat otoriter pada waktu itu di era demokrasi terpimpin.

  1.     PERKEMBANGAN SOSIAL BUDAYA PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN
  2.       Pendidikan

Murid-murid sekolah lanjutan pertama dan tingkat atas pada tahun 1950-an jumlahnya melimpah dan berharap menjadi mahasiswa. Mereka ini adalah produk pertama dari system pendidikan setelah kemerdekaan. Universitas baru didirikan di ibukota propinsi dan jumlah fakultas ditambah meskipun kekurangan tenaga pengajar. Perguruan tinggi swasta semakin banyak terutama tahun 1960. Eksplosi pendidikan tinggi ini disebabkan meluasnya aspirasi untuk menjadi mahasiswa.

Untuk memenuhi keinginan golongan islam didirikan Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Sedangkan umat Kristen dan katolik didirikan sekolah Tinggi Theologia serta seminari-seminari. Sistem penerimaan mahasiswa yang mudah dan pembebasan biaya kuliah menyebabkan peningkatan jumlah mahasiswa besar-besaran. Penambahan mahasiswa mencapai seratus ribu dengan perguruan tinggi 181 buah pada tahun 1961.

Sejak tahun 1959 dibawah menteri P dan K Prof. Dr. Prijono disusun suatu rencana pengajaran yang disebut Sapta Usaha Tama, yang meliputi :

  1. Penertiban aparatur dan usaha-usaha Departemen P dan K,
  2. Meningkatkan seni dan olahraga
  3. Mengharuskan usaha halaman
  4. Mengharuskan penabungan
  5. Mewajibkan usaha-usaha koperasi
  6. Mengadakan kelas masyarakat
  7. Membentuk regu kerja di kalangan SLTP/SLTA dan Universitas

Sejak tahun 1962 sistem pendidikan SMP dan SMA mengalami perubahan dalam kurikulum SMP baru di tambahkan mata pelajaran ilmu administrasi dan kesejahteraan masyarakat. Sistem pendidikan SMA di lakukan penjurusan mulai kelas II jurusan di bagi menjadi kelas budaya, soiial, ilmu pasti dan alam.  Melihat pembagian di SMA seperti itu menunjukkan mereka dipersiapkan untuk memasuki peguruan tinggi.

Tentang penyelenggaraan seni dan olah raga ditentukan kewajiban mempelajari dan menyanyikan 6 lagu nasional selain lagu kebangsaan Indonesia Raya. Olah raga sepak bola dan bola volley banyak dikembangkan.

Yang dimaksud Usaha halaman adalah usaha yang dapat dilakukan di halaman sekolah maupun rumah, yang hasilnya dapat dibuat sebagai penambah pangan. Usaha halaman sekolah berlaku untuk semua tingkat sekolah negeri maupun swasta.

Gerakan menabung bagi setiap murid dilakukan pada bank tabungan pos, kantor pos, kantor pos pembantu. Cara penabungan di atur oleh departemen P dan K bersama dengan Direksi Bank Tabungan Pos. usaha ini untuk mendidik anak berhemat selain untuk pengumpulan dana masyarakat. Gerakan koperasi sekolah juga digiatkan. Murid aktif dalam penyelenggaraan koperasi. Kepala sekolah dan guru sebagai pengawas dan penasehat koperasi.

Suatu kelas masyarakat yang waktu pendidikannya 2 tahun dibentuk untuk menampung lulusan sekolah rakyat yang karena sesuatu hal tidak dapat melanjutkan sekolah. Mereka dididik dalam kelas masyarakat ini untuk mendapat ketrampilan.

Sekitar tahun 1960-an dikalangan pendidikan muncul masalah yakni usaha PKI untuk menguasai organisasi profesi guru “Persatuan Guru Replubik Indonesia” (PGRI). Hal ini menimbulkan perpecahan dikalangan guru dan PGRI.  Perpecahan PGRI bertepatan dengan dilancarkannya system pendidikan baru oleh menteri PP dan K. system baru itu adalah Pancasila dan Pancawardhana. Adapun sistem Pancawardhana atau lima pokok penjabarannya :

                                           I.      Perkembangan cinta bangsa dan tanah air, moral nasional /internasional/keagamaan.

                                        II.      Perkembangan intelegensi.

                                     III.      Perkembangan nasional-artistik atau rasa keharusan dan keindahan lahir dan batin.

                                     IV.      Perkembangan keprigelan ( kerajinan tangan ).

                                        V.      Perkembangan jasmani.

  1.       Komunikasi Massa

Surat kabar dan majalah yang tidak seirama dengan Demokrasi Terpimpin, harus menyingkir dan tersingkir. Persyaratan untuk mendapatkan Surat Ijin Terbit dan Surat Ijin Cetak (SIT) diperketat. Sejak tahun 1960, semua penerbit wajib mengajukan permohonan SIT dengan dicantumkan 19 pasal yang mengandung pertanggungjawaban surat kabar/majalah tersebut.

Pedoman resmi untuk penerbitan surat kabar dan majalah diseluruh Indonesia, dikeluarkan pada tanggal 12 Oktober 1960 yang ditanda tangani oleh Ir. Juanda selaku Pejabat Presiden. Pedoman yang berisi 19 pasal tersebut mudah digunakan penguasa untuk menindak surat kabar/majalah yang tidak disenangi. Maka satu demi satu penerbit yang menentang dominasi PKi di cabut SITnya. Yakni, Harian Pedoman, Nusantara, Keng Po, Pos Indonesia, Star Weekly dan sebagainya. Surat kabar Abadi lebih memilih menghentikan penerbitan daripada menandatangani persyaratan 19 pasal itu. Dengan semakin sedikitnya pers Pancasila yangb masih hidup, dapat digambarkan betapa merajalelanya Surat Kabar PKI seperti Harian Rakyat, Bintang Timur, dan Warta Bhakti.

Melalui Harian Rakyat surat kabar resminya, pimpinan PKI memimpin propaganda untuk menyingkirkan lawan politiknya. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) satu-satunya organisasi profesi wartawan yang ada dan diakui pemerintah, didominasi oleh golongan komunis dan satelit-satelitnya. Karena itu wartawan diluar kubu komunis tidak bisa bergerak karena terkepung. Bahkan Departemen Penerangan akhirnya dapat digiring kepada sikap mendukung garis yang diajukan PKI.

 Sajuti Melik menyebarluaskan ajaran-ajaran Bung Karno yang murni (belum dipengaruhi oleh komunisme) dalam tulisan-tulisan yang dimuat dalam surat kabar dengan jdul tulisan “Belajar Memahami Soekarnoisme”. Isi pokok tulisan Sajuti Melik ialah “Tidak setuju Nasakom”, melainkan setuju Nasasos. Maksudnya ialah untuk mengingatkan berbagai pihak akan ajaran-ajaran Bung Karno yang semula. Dengan demikian diharapakan untuk membendung penyimpangan-penyimpangan oleh PKI terhadap ajaran-ajaran itu. Pada mulanya tulisan itu di muat oleh Suluh Indonesia, Koran PNI, dan dari Koran itu di kutip oleh harian dan majalah lain. Tapi setelah ada protes keras dari PKI, maka dihentikan pemuatannya oleh Suluh Indonesia. Berdasarkan tulisan sajuti Melik ini, berdirilah Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS). Pengurus BPS adalah ketua : Adam Malik; Wakil Ketua : B. M. Diah; Ketua Harian : Sumantoro; Wakil Ketua Harian : Junus Lubis; Sekretaris Umum : Drs. Asnawi Said; Bendahara : Sunaryo Prawiroadinata; Biro Dalam Negeri : Sugiarso; Biro Luar Negeri : Zain Effendi AI; Penghubung : Adyatman. BPS terbukti mendapat dukungan luas dalam masyarakat, dilain pihak mendapat tantangan dari PKI. Melalui surat kabar, rapat-rapat dan demonstrasi PKI menfitnah BPS dengan slogan to kill Soekarno With Soekarnoisme.

Pemerintah Soekarno pada saat itu mendapat tekanan dari golongan komunis untuk menindak BPS. Pada akhirnya Presiden Soekarno, selaku pemutus terakhir turun tangan. Keputusan yang di ambil Presiden Soekarno pada bulan februari 1965 ialah: “ …melarang semua aktivitas BPS dan mencabut izin terbit Koran-koran penyokong BPS”. Ini berarti BPS bubar.

 Akibat dilarangnya Koran pendukung BPS banyak karyawan pers yang dengan itikat baik hendak menyebarkan ajaran Bung Karno menurut tafsiran yang murni dan bukan tafsiran Komunis., kehilangan nafkahnya.

  1.       Kehidupan Budaya

 Sesuai dengan semboyan PKI “ politik adalah panglima”  maka seluruh kehidupan masyarakat diusahakan untuk berada di bawah dominasi politiknya. Kampus diperpolitikkan mahasiswa yang tidak mau ikut dalam rapat umumnya, appel-appel besarnya dan demonstrasi-demonstrasi revolusionernya di caci maki dan dirongrong oleh unsur Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) atau satelit-satelitnya. Wartawan yang ikut BPS dimaki-maki sebagai antek Nekolim atau agen CIA. Bahkan para budayawan maupun seniman juga tak luput dari raihan tangan mereka.

Realisme sosialis sebagai doktrin komunis dibidang seni dan sastra diusahakan untuk menjadi doktrin di Indonesia juga. Akan tetapi pelaksanaan doktrin tersebut lebih represif dari pada persuasive seperti adanya larangan bagi pemusik-pemusik pop untuk memainkan lagu-lagu ala imperialis barat. Peristiwa yang paling diingat oleh masyarakat pada bidang budaya adalah heboh mengenai Manifes Kebudayaan dan Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia (KKPI).  Sesungguhnya isi dari Manifes Kebudayaan itu tidaklah baru atau luar biasa. Yang diungkap adalah konsepsi humanisme universal yang timbul dalam masyarakat liberal yang menekankan kebebasan individu untuk berkarya secara kreatif. PKI tidak serta merta menyerang manifes tersebut akan tetapi berselang 4 bulan setelah kemunculannya baru mulai angkat senjata. Hal ini terjadi karena para sastrawan Pancasilais baik yang mendukung manifes kebudayaan maupun tidak sedang menyiapkan rencana untuk menyelenggarakan Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia (KKPI). PKI menganggap bahwa sebuah manifest saja bukanlah ancaman bagi mereka akan tetapi suatu pengelompokan yang terorganisasi merupakan bahaya yang harus segera ditumpas sebelum berkembang lebih besar. Para sastrawan yang sudah menyiapkan KKPI memiliki perencanaan yang matang. Mereka sudah  melakukan pengaman secukupnya baik berupa konsepsi maupun dukungan dari pejabat-pejabat dan kekuatan-kekuatan pancasilais. Setelah kemunculan Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI) barulah PKI mulai mengadakan kampanye untuk mengidentifikasi KKPI dan PKPIdengan manifest kebudayaan untuk sama-sama dihancurkan. Serangan terhadap manifest kebudayaan terus dilancarkan melalui tulisan yang semakin tajam dalam Harian Rakyat, Bintang Timur dan Zaman Baru. PKI menganggap manifest kebudayaan sebagai bentuk penyelewengan dari revolusi Indonesia yang berporos pada soko guru tani, buruh dan prajurit. Di lain sisi PKI mendukung penuh gagasan manifest politik karena dalam ide-ide tersebut terdapat penyesuaian gagasan sikap politik budaya dari perjuangan komunisme. Manifes kebudayaan dianggap mengesampingkan manifest politik karena memisahkan antara politik dan kebudayaan. Propaganda PKI yang hebat sedikit banyak telah mempengaruhi massa, serangan-serangan terhadap pendukung manifest kebudayaan dan KKPI tidak ada hentinya dalam harian, pidato, tokoh-tokoh PKI maupun aksi politik. Serangan lewat media mass media, aksi turun kejalanberdemonstrasi dilakukan oleh penyokong PKI. Aksi-aksi tersebut mengundang presiden Soekarno sehingga pada ulang tahun Departemen Perguruan Tinggi dan ILmu Pengetahuan (PTIP) yang ke-3 menyampaikan pidato yang mendesak mahasiswa revolusioner dan molotan untuk menggeser guru-guru besar dan sarjana anti manifest politik. Pidato Presiden Soekarno tentang Manipol-Usdek yang dimanfaatkan PKI untuk pentrapan bagi konsumsi rakyat. Dalam pidato ini Presiden soekarno mengecam adanya kebudayaan barat yang diasosiasikan dengancita-cita imperialism barat. Kekuatan Pki setelah tahun 1963sangat besar dan berpengaruh sekali, Bahkan PKI dapat keluar masuk istana secara mudah. Sehingga Presiden soekarno mengeeluarkan larangan terhadap manifest kebudayaan karena manifesto politik republic Indonesia sebagai pancaran pancasiala telah menjadi garis besar haluan negara tidak mungkin didampingi manifesto lain apalagi kalau manifesto itu menunjukkan sikap ragu-ragu terhadap revolusi dan member kesan berdiri disampingnya. Pernyataan Presiden Soekarno yang menganggap pendukung manifest kebudayaan bertentangan dengan manipol merupakan suatu tuduhan yang sangat berbahasa pada saat itu. Pencetus utama manifest kebudayaan H.B Jassin, wiratmo Sukitodan Trisno sumardjo merasakan ahwa mereka harus membuat suatu pernyataan berkenaan dengan perintah pelarangan dari Presiden soekarno untuk menjelaskan posisi manifesto kebudayaan, membersihkan diri mereka dari massa yang digerakkkan PKI. Oleh sebab itu pada tanggal 11 Mei 1964 ketiga tokoh tersebut menanggapi larangan Presiden Soekarno. Pernyataan ini dibuat agar angka korban yang jatuh akibat dukungan kepada manifest kebudayaan tidak meningkat.

Pada tanggal 27 Agustus-2 September 1964 PKI mengadakan Konferensi Nasional Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) di Jakarta. KSSR ini dimaksudkan untuk menandingi KKPI yang diadakan bulan Maret lalu. KSSR mau membuktikan bahwa suasana kebudayaan berada dibawah kekuasaaan PKI. Dengan demikian berhasilllah PKI memukul manifest kebudayaan akan tetapi PKPI tidak dapat mereka hancurkan. Benteng Pancasila tidak dapat ditaklukkan oleh PKI selain itu para sastrawan Indonesia mendapatkan pelajaran berharga bahwa untuk menghadapi komunisme diperlukan juga senjata berupa organisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

            Latar belakang dicetuskannya sistem Demokrasi Terpimpin oleh Presiden Soekarno yaitu dari segi keamanan : Banyaknya gerakan sparatis pada masa Demokrasi Liberal, menyebabkan ketidakstabilan di bidang keamanan. Dari segi perekonomian  : Sering terjadinya pergantian kabinet pada masa Demokrasi Liberal menyebabkan program-program yang dirancang oleh kabinet tidak dapat dijalankan secara utuh, sehingga pembangunan ekonomi tersendat. Dari segi politik : Konstituante gagal dalam menyusun UUD baru untuk menggantikan UUDS 1950.

Untuk merencanakan pembangunan ekonomi, pada tahun 1958 dibentuk undang-undang mengenai pembentukan Dewan Perancang Nasional. Tugasnya adalah mempersiapkan rancangan undang-undang Pembangunan Nasional yang berencana,menilai penyelenggara pembangunan itu. Pada massa demokrasi terpimpin Indonesia melakukan kredit luar negeri dan melakukan kerja sama perdangan dengan Cina yang memberikan keuntungan materi dan politik.

            Pada masa Demokrasi Terpimpin, parlemen sudah tidak mempunyai kekuatan yang nyata. Partai politik tidak mempunyai peran besar dalam pentas politik nasional dalam tahun-tahun awal Demokrasi Terpimpin.

            Dalam bidan social budaya, pendidikan masa demokrasi terpimpim mulai berubah dan mengalami kemajuan. Perguruan tinggi mulai bermunculan baik swasta maupun negeri. Media massa ketika demokrasi terpimpin mengalami kemunduran, sebab media massa mulai dibelenggu dengan aturan-aturan dan izin cetak/siar. Media massa dikendalikan oleh komunis. Bidang budayapun juga begitu, seni dan sastra dipengaruhi oleh paham komunis.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Karim, Rusli. 1993. Perjalanan Partai Politik Di Indonesia: Sebuah Potret Pasang-Surut. Jakarta: Rajawali Pers.

Maarif, Ahmad Syafii. 1996. Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin (1959—1965). Jakarta: Gema Insani Press.

Marwati Djoened Poesponegoro dkk. 1993 Sejarah Nasional Indonesia jilid VI, Jakarta: Depdikbud-Balai Pustaka.

 

Image

Momorier of smp

Momorier of smp

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

UPAYA MENINGKATKAN KEMAUAN BERTANYA SISWA DENGAN MEMBERI PENGUATAN (RINFORCEMENT)  KELAS VII /H DI SMP NEGERI 1 LAREH SAGO HALABAN

 

 

DISUSUN OLEH:

ZETRIA AFNIATI

NIM:10 10007933 207

 

 

PRODI SEJARAH

STKIP ABDI PENDIDIKAN

 PAYAKUMBUH

2013

 

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

 

JUDUL

Upaya Meningkatkan Kemauan Bertanya Dengan Memberikan Penguatan (Reinforcement) dikelas VII/ H di SMP Negeri 1 Lareh Sago Halaban

Oleh:

ZETRIA AFNIATI

NIM:10 1000793 207

PRODI SEJARAH

Mengetahui

Dosen pembimbing

 

 

DESTEL MERI,S.Pd

 

Pakan Rabaa,       Oktober 2013

Guru Pamong

 

MURDANIS

 

 

Mengetahui

Kepala sekolah SMP N 1 Lareh Sago Halaban

 

 

M. YUSUF LUBIS,S.Pd

NIP. 19680417 199412 1 002

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

 

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru dalam melaksanakan tugas antara lain memberi pelatihan, melengkapi sarana dan sumber belajar dan memberi tunjangan bagi guru. Namun dalam melaksanakannya itu belum mampu memperbaiki kualitas mengajar guru. Guru masih cenderung melakukan pembelajaran konvensional diantara beragam metode dan model pembelajaran. Metode ceramah adalah metode yang dominan digunakan oleh para guru. Sebenarnya guru telah berupaya melakukan model dan metode yang bervariasi, salah satunya melakukan diskusi kelompok. Namun dalam pelaksanaannya dirasakan kurang efektif, membutuhkan banyak waktu, kurangnya pengelolaan kelas yang mengakibatkan kelas ribut dan siswa kesulitan dalam mengambil kesimpulan, akibatnya guru harus kembali mengulas materi tersebut.

 

Dalam pelaksanaan pembelajaran peserta didik cenderung bersikap pasif, banyak peserta didik yang diam saja jika ditanya oleh guru dan sedikit sekali diantara mereka yang mau bertanya jika ada hal yang kurang dipahaminya walaupun guru selalu memberi kesempatan untuk bertanya. Jika ada peserta didik yang bertanya diselingi oleh tawa peserta didik lainnya karena pertanyaan tidak berhubungan dengan materi yang disajikan. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang penulis lakukan dikelas VII H tahun ajaran 2013-2014 di SMP N 1 Lareh Sago Halaban diperoleh data bahwa persentase peserta didik yang mau bertanya jika materi yang kurang dipahami adalah 16,6% atau 4 orang yang mau bertanya dari jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut yaitu 24 orang. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian lanjutan bagaimana supaya kemauan peserta didik untuk mau bertanya dapat ditingkatkan. Disisi lain guru kadang lupa untuk memberi penguatan (reinforcement) terhadap peserta didik yang mau bertanya dan langsung menjawab pertanyaan tersebut tanpa memberi kesempatan peserta lain untuk menjawab pertanyaan tersebut. Untuk mencapai tujuan ini, guru menyusun rencana pembelajaran kooperatif model STAD. Selama proses pembelajaran, guru memberi penguatan (reinforcement), menyiapkan lembaran observasi peserta didik dan guru, kuesioner peserta didik dan catatan lapangan.

 

Berdasarkan data yang penulis kumpulkan dikelas VII H SMP N 1 Kec. Lareh Sago Halaban tahun 2013-2014 bahwa daya serap yang diperoleh peserta didik setelah dilakukan ulangan harian adalah 60,35 dan jumlah peserta didik yang tuntas adalah 16 peserta dari 24 peserta didik (persentase ketuntasan sebesar 66,66%). Hal ini disebakan oleh kurangnya pemahaman konsep peserta didik, padahal pernyataan soal disetiap ujian selalu menanyakan konsep dasar. Semua itu tidak terlepas dari kebiasaan guru yang menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran. Kebermakmanaan belajar menurut teori kerucut Edgar Dale antara lain jika peserta didik belajar jika dengan mendengar saja mereka mampu menyerap sebanyak 10% dari materi yang disampaikan, dengan membaca mereka akan menyerap sebanyak 20%, jika melihat mereka akan menyerap sebanyak 30%, jika mereka melihat dan mendengar akan menyerap sebanyak 50%, jika mereka mengatakan akan menyerap sebanyak 70%, dan jika mereka belajar dengan mengatakan dan melakukan sesuatu akan menyerap sebanyak 90%.

 

Sementara itu dalam pembelajaran IPS, siswa dituntut untuk aktif, merekalah yang menemukan sendiri sesuai dengan tujuan pembelajaran IPS yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006 yaitu agar peserta didik mampu melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bersikap dan bertindak ilmiah serta berkomunikasi. Salah satu cara untuk mencapai tujuan ini adalah dengan melakukan pembelajaran kooperatif (kooperatif learning). Penulis memilih model pembelajaran kooperatif model STAD (Student Team-Achievemen Division) atau tim siswa kelompok berprestasi dalam menyajikan materi sehari-hari untuk membiasakan peserta didik untk selalu bekerja sama dan berkomunikasi dalam belajar, disamping itu pemberian penghargaan untuk kelompok yang berprestasi merupaka hal yang paling ditunggu-tunggu oleh peserta didik pada setiap kali pertemuannya, dengan demikian melalui pembelajaran kooperatf model STAD ini peserta didik termotivasi untuk belajar.

 

Berdasarkan uraian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa kemampuan bertanya peserta didik dikelas VII H SMP N 1 Kec. Lareh Sago Halaban masih rendah, mereka juga sulit memahami konsep-konsep IPS. Jika hal ini dibiarkan maka dikhawatirkan mereka akan kesulitan menjawab soal-soal ujian yang biasa menanyakan konsep-konsep dasar yang telah mereka pelajari sebelumnya.

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka yang menjadi permasalahan dikelas VII H SMP N 1 Kec.Lareh Sago halaban dapat didentifikasi sebagai berikut:

  1. Guru lebih dominan melaksanakan proses pembelajaran dengan metode ceramah
  2. Kemauan peserta didik untuk bertanya masih rendah
  3. Tidak semua peserta didik mampu menjawab pertanyaan guru
  4. Guru tidak selalu memberikan penguatan (reinforcement) kepada peserta didik yang mau bertanya atau menjawab pertanyaan
  5. Peserta didik kurang memahami konsep-konsep dasar
  6. Hasil belajat peserta didik masih rendah

 

  1. Batasan Masalah

Pada penelitian ini penulis membatasi masalah hanya pada masalah kedua yaitu kemauan peserta didik untuk bertanya masih rendah.

 

  1. Rumusan Masalah

Apakah pemberian penguatan (Reinforcement) dapat meningkatkan kemauan bertanya peserta didik di kelas VII H / SMP N 1 Kec. Lareh Sago Halaban.

 

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan kemauan bertanya peserta didik di kelas VII H SMP N 1 Kec. Lareh Sago Halaban.

 

  1. Manfaat Penelitian
    1. Bagi peserta didik
      1. Dapat meningkatkan kemauan bertanya
      2. Dapat meningkatka aktifitas belajar
      3. Dapat meningkatkan ketuntasan belajar
      4. Dapat mengatasi kejenuhan dalam belajar

 

  1. Bagi guru

 

  1. Dapat meningkatkan kualitas mengajar guru
  2. Merupakan salah satu alternatif model mengajar untuk meningkat aktifitas belajar peserta didik
  3. Sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. Bertanya (Questioning)

 

Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang bermula dari aktifitas bertanya, misalnya untuk dapat memasak kue yang enak kita akan menanyakan apa saja bahan yang dibutuhkan? Bagaimana cara membuatnya? Menurut Pendiknas ( 2002:13) Qestioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Pada proses pembelajaran bertanya dapat diterapkan antar peserta didik, antara guru dengan peserta didik, antara peserta didik dengan orang lain yang datang ke kelas tersebut. Aktifitas bertanya dapat ditemukan dalam berbagai aktifitas belajar, misal ketika bekerja dalam kelompok, ketika mengamati, ketika diskusi atau menemukan kesulitan.

 

Dengan adanya peserta didik yang mau bertanya dalam belajar maka guru dapat mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan dan kelas akan lebih aktif karena peserta didik tidak hanya mendengarkan penjelasan guru namun juga tanggapan atau pendapat peserta didik lainnya. Hal ini sesuai dengan tujuan dengan adanya tanya jawab dalam proses pembelajaran yang dikemukakan oleh Eka Prihatin (2008:35) yaitu dapat memotivasi dan menimbulkan kompetensi dalam belajar dan melatih peserta didik untuk berpikir dan berbicara.

 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peserta didik untuk bertanya yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dari dalam meliputi minat dari peserta didik, ada perasaan kurang atau tidak berani untuk bertanya dan faktor keinginan tahuan peserta didik. Sedangkan faktor dari luar antara lain motifasi dari guru serta faktor dari lingkungan dan suasana belajar.

 

  1. Penguatan (Reinforcement) dalam pembelajaran

 

Memberikan penguatan dalam pembelajaran merupakan salah satu keterampilan dasar mengajar yang harus dimiliki oleh guru. Menurut Ma’mur Saadie (2007:3.15) penguatan adalah respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadi perilaku tersebut. Memberi pujian, penguatan atau penghargaan kepada siswa kelihatan sederhana tetapi dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap siswa. Jika ada peserta didik yang mengerjaka semua tugas dengan benar, maka guru merespon dengan mengucapkan “pekerjaanmu bagus dan rapi” maka peserta didik tadi akan merasa bangga dan akan berusaha lebih baik lagi pada tugas berikutnya. Tetapi jika ada peserta didik yang telah berusaha mengerjakan tugasnya tetapi guru tidak memberi respon apapun maka peserta didik tadi akan bingung apakah tugas yang telah dikerjakan benar atau salah, bahkan dapat mematahkan semangatnya untuk mengerjakan tugas berikutnya, salah satu tujuan memberi penguatan adalah untk meningkatkan perhatian dan motivasi belajar siswa.

 

Prinsip-prinsip penguatan menurut Ma’mur Saadie (2007:3.15) antara lain:

 

  1. Kehangatan dan keantusiasan

Sikap hangat dan antusias dalam memberikan penguatan akan mendorong peserta didik untuk mengurangi dan meningkatkan perilaku positif yang telah dilakukan yang terlibat dari suara dan mimik guru ataupun gerakan badan guru. Sikap hangat dan antusias akan menjadi penguatan efektif dan sebaliknya jika penguat diberikan tanpa kehangatan dan keantusiasan akan memberi kesan guru tidak bersungguh – sungguh dalam memberi penguatan.

  1. Kebermaknaan.

Peserta didik yang diberi penguatan harus mengerti bahwa dirinya patut mendapat penguatan sehingga penguatan bermakna baginya. Ketika seorang guru memberi pujian, tugasmu hari ini lebih rapi dari kemaren! Dan ternyata memang peserta didik tersebut bahwa tugasnya labih baik, maka penguatan tersebut akan bermakna bagi peserta didik tersebut.

  1. Menghindari penggunaan respon negatif

Respon negatif seperti komentar dengan nada yang mengejek, berkata kasar dan lain-lainnya perlu dihindari karena dapat mematahkan semangat peserta didik, dan bukan tidak mungkin peserta didik menjadi sakit hati

      Sasaran penguatan harus jelas, apakah penguatan itu ditujukan kepada pribadi tertentu atau kelompok dan penguatan yang diberikan guru harus segera setelah kegiatan dilaksanakan, penguatan yang tertunda akan membuat penguatan tersebut kurang efektif. Dalam proses penguatan yang diberikan guru harus bervariasi sehingga tidak membosankan.

Macam-macam penguatan:

  1. Penguatan verbal

Merupakan penguatan berupa kata-kata atau kalimat pujian seperti bagus, baik sekali, tugasmu rapi dan selesai tepat waktu dll.

  1. Penguatan non verbal
    1. Penguatan berupa mimik dan gerakan badan
    2. Penguatan dengan cara mendekati
    3. Penguatan dengan kegiatan
    4. Penguatan dengan sentuhan
    5. Penguatan berupa simbol dan benda
    6. Penguatan tidak penuh

 

  1. KERANGKA KONSEPTUAL

 

Kondisi Awal

                           

Guru tidak selalu memberi penguatan (Reinforcement) dalam proses

                                                                           

Kemampuan bertanya peserta didik masih rendah

 

Tindakan

                                

Siklus I Guru memberi penguatan (Reinforcement) dalam proses pembelajaran

                                                                          

Siklus II memberi penguatan (Reinforcement) dalam proses pembelajaran dan melengkapi apa yang belum tercapai pada siklus I

 

Kondisi Akhir

              

Kemampuan bertanya peserta didik meningkat

 

BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

  1. Tempat dan Waktu Penelitian

 

Penelitian tindakan kelas dilakukan dikelas VII H SMP N 1 Kec. Lareh Sago Halaban tahun 2013-2014. Jumlah peserta didik adalah 24 orang yang terdiri dari 11 orang laki-laki dan 13 orang perempuan. Karakteristik mereka heterogen baik dari kemauan intelektual, latar belakang sosial dan ekonomi ataupun tempat tinggal. Penelitian dilakukan mulai minggu ke I bulan September sampai 3 Oktober 2013.

 

  1. Prosedur Penelitian

 

Penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus, sebelumnya telah dilakukan observasi untuk mengetahui kondisi awal dari subjek penelitian yaitu guru tidak selalu memberi penguatan (Reinforcement) dalam proses pembelajaran. Siklus pertama terdiri dari dua kali. Pertemuan pada matreri mendeskripsikan benda apa saja yang ada disekitar mereka. Siklus ke dua terjadi dari tiga kali pertemuan pada mendeskripsikan apa ciri-ciri yang dimiliki oleh masing-masing tiap benda hidup yang ada, mendeskripsikan ciri yang dimiliki oleh tumbuhan dan hewan, membedakan ciri hewan dan tumbuhan. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observing) dan refleksi (reflecting)

  1. Siklus I

 

  1. Rencana tindakan

Siklus pertama diawali dengan menyusun rencana pembelajaran dengan memberi penguat (reinforcement) melalui pembelajaran komperatif STAD, membuat media pembelajaran, menyusun media obsevasi untuk mengamati peserta didik selama pembelajaran berlangsung, menyusun quesioner peserta didik untuk mengetahui respon mereka terhadap tindakan yang dilakukan.

 

  1. Pelaksanaan tindakan

–          Pendahuluan

  1. Guru memberi apersepsi/persyaratan sesuai dengan materi yang akan dipelajari
  2. Guru memberi motivasi
  3. Guru menyampaikan judul dan tujuan dari pembelajaran sesuai indikator yang harus dicapai selama proses pembelajaran berlangsung

 

–          Kegiatan inti

  1. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4-5 orang yang bersifat heterogen (jenis kelamin, suku dan kemampuan intelektual)
  2. Guru menyampaikan pembelajaran (persentase verbal atau teks)
  3. Peserta didik bekerja dalam kelompok menggunakan lembaran kerja siswa atau perangkat pembelajaran lain untuk menuntaskan materi pembelajaran lainnya dan saling membantu satu ama lainnya.
  4. Guru membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas kelompok
  5. Guru menyuruh peserta didik untuk mengkomunikasikan hasil diskusi kelompoknya, ditanggapi oleh peserta didik lainnya dan guru mengulas jawaban peserta didik.

–          Penutup

  1. Guru membimbing peserta didik untuk mengambil kesimpulan
  2. Dilakukan kuis untuk peserta didik, ketika kuis mereka bekerja secara individual dan di skors. Setiap individu diberi skor perkembangan dibandingkan dengan skor rata-rata.

 

  1. Observasi pengamatan

Dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung baik terhadap peserta didik maupun terhadap guru, hasil pengamatan dicatat pada format yang telah disediakan oleh guru mitra sebagai kolaborator

  1. Refleksi

Pada tahapan ini dilakukan refleksi terhadap semua hal yang diperoleh melalui observasi dan catatan lapangan pada siklus pertama.

 2 . Siklus II

              Siklus ke II juga menggunakan tahapan seperti siklus pertama, dimulai dari perencanaan-perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observing) dan refleksi (reflecting). Perolehan data pada siklus pertama merupakan acuan untuk melakukan tindakan pada siklus kedua.

  1. Data dan rencana pengumpulan data

Jenis data yang dipergunakan adalah data kualitatif untuk mengamati kemauan peserta didik untuk bertanya didalam kelas jika ada materi yang kurang dipahami, alat pengumpulan data berupa lembar observasi, catatan lapangan dan kuesioner peserta didik.

  1. Teknis analisis data

Data yang diterima selama pembelajaran berlangsung diolah dengan cara mentabulkasi kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan data yang diperoleh melalui lembaran observasi, catatan lapangan dan kuesioner. Data yang diperoleh disajikan dalam tabel, persentase diperoleh melalui rumus:

N=_Ax100%

N=persentase perolehan sesuai dengan dari aktifitas yang diamati

A=jumlah peserta didik sesuai dengan aktifitas yang diamati

B=jumlah peserta didik yang hadir pada setiap kali pertemuan

 

  1. Indikator keberhasilan

Tolak ukur keberhasilan pada penelitian tindakan kelas ini adalah:

  1. Persentase peserta didik yang mau bertanya minimal 30% dari jumlah peserta didik
  2. Seluruh peserta didik yang bertanya terlebih dahulu mengacungkan tangan (100%)
  3. Seluruh peserta didi yang bertanya harus menanyakan hal yang berkaitan dengan materi (100%)
  4. Persentase peserta didik yang bertanya dengan menggunakan Bahasa Indonesia minimal 50% dari persentase peserta didik yang mau bertanya.

 

 

3 . Hasil Kegiatan

Hasil kegiatan siklus I dapat dilihat pada tabel dibawah ini,

Tabel 1: Kemauan bertanya peserta didik pada siklus I

No

Aktifitas peserta didik yang diamati

PERTEMUAN

RATA-RATA

I

II

A

N

A

N

1

Mengacungkan tangan sebelum bertanya

1

4,1

3

12,5

8,3

2

Tidak mengacungkan tangan sebelum bertanya

4

16,61

4

16,61

16,61

3

Mananyakan hal yang berkaitan dengan materi

5

20,81

7

29,11

24,96

4

Menanyakan hal yang tidak berkaitan dengan materi

0

0

0

0

0

5

Menggunakan Bahasa Indonesia

0

0

0

0

0

6

Menggunakan Bahasa Daerah

5

20,81

7

29,11

24,96

7

Jumlah peserta didik yang bertanya

5

20,81

7

29,11

24,96

Keterangan:

A= jumlah peserta didik sesuai dengan aktifitas yang dimiliki

B=jumlah peserta didik yang hadir setiap kali pertemuan (24 orang)

N=persentase perolehan sesuai dengan aktifitas yang diamati

Jika dibandingkan dengan kondisi awal maka hasil kegiatan siklus 1 dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 2: Perbandingan kemauan bertanya siklus I dengan kondisi awal

No

Aktifitas siswa yang diamati

Kondisi awal

Siklus I

Perobahan

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

1

Mengacungkan tangan sebelum bertanya

1

4,1

2

8,3

1

4,1

2

Tidak mengacungkan tangan sebelum bertanya

3

12,5

4

16,1

1

4,1

3

Menanyakan hal yang berkaitan dengan materi

3

12,5

6

0,25

2

8,3

4

Menanyakan hal yang tidak berkaitan dengan materi

1

4,1

0

0

1

4,1

5

Menggunakan Bahasa Indonesia

0

0

0

0

0

0

6

Menggunakan bahasa daerah

4

16,1

6

0,25

2

8,2

7

Jumlah peserta didik yang bertanya

4

16,1

6

0,25

2

8,2

Tabel 3: Penguatan (reinforcement) yang diberikan guru terhadap peserta didik yang bertanya pada siklus I

Kondisi awal

Siklus

Pertemuan I

Pertemuan II

Tidak selalu memberikan reinforcement

4

6

Keterangan: salah satu peserta didik yang bertanya tidak mendapat penguatan (reinforcement) pada siklus I

Berdasarkan tabel diatas maka dapat kita lihat bahwa ada peningkatan persentase kemauan bertanya peserta didik dari kondisi awal hingga berakhirnya siklus I. Jumlah peserta didik yang mau bertanya pada kondisi awal hanya 4 orang (16,1%) meningkat menjadi 6 orang (0,25%) dari 4 orang peserta didik yang bertanya pada kondisi awal hanya satu orang yang mau bertanya. 4,1% yang mengacungkan tangan sebelum bertanya dan meningkat menjadi 2 orang (8,3) pada siklus I jumlah peserta didik yang mau bertanya tanpa mengacungkan tangan juga mengalami peningkatan dari 3 orang (12,5%) pada kondisi awal menjadi 4 orang (16,1%) pada siklus I tapi pada siklus I semua menanyakan hal yang berkaitan dengan materi. Peserta didik yang bertanya semuanya menggunakan bahasa daerah baik kondisi awal maupun pada siklus I.

4 . Refleksi

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus I diatas dapat kita lihat bahwa dengan memberikan penguatan (reinforcement) dalam proses pembelajaran terdapat peningkatan kemauan bertanya peserta didik walaupun hasil itu belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Persentase jumlah peserta didik yang mau bertanya meningkat (8,3%) artinya pemberian reinforcement dari guru memberi pengaruh yang positif sehingga peserta didik akan termotivasi untuk bertanya, baik penguatan verbal ataupun non verbal. Tidak dapat dipungkiri bahwa kadang kala guru masih lupa memberikan reinforcement terhadap peserta didik yang mau bertanya. Salah seorang peserta didik pada pertemuan pertama tidak mendapatkan penguatan setelah bertanya, demikian juga pada pertemuan ke dua, hal ini hendaknya diperbaiki pada siklus ke dua. Jumlah peserta didik yang mengacungkan tangan sebelum bertanya mengalami peningkatan sebesar (4,1%) hal ini berkaitan dengan tindakan guru yang memberikan penguatan sekaligus menanamkan pendidikan yang berkarakter dalam proses pembelajaran. Jumlah peserta didik yang tidak mengacungkan tangannya sebelum bertanya juga mengalami peningkatan sebesar (4,1%). Hal itu berkaitan dengan kebiasaan siswa selama ini yang memang sering bertanya pada guru secara langsung tanpa mengangkat tangan terlebih dahulu. Melalui kuesioner diperoleh data peserta didik yang lebih sering bertanya langsung tanpa angkat tangan terlebih dahulu adalah 88,8%. Penulis yakin dengan melaksanakan pendidikan yang berkarakter disetiap proses pembelajaran, hal ini akan dapat diperbaiki. Semua peserta didik yang mau bertanya (0,25%) pada siklus satu menanyakan hal yang berkaitan dengan materi, mereka berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang terdapat pada LKS. Semua peserta didik yang mau bertanya (0,25%) masih menggunakan bahasa daerah, memang didalam kehidupan sehari-hari mereka tidak terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia, termasuk dilingkungan sekolah. Kadangkala bahasa yang mereka gunakan menjadi bahan olok-olokan temannya, karena setiap daerah mempunyai logat sendiri-sendiri, hal ini dapat menurunkan motivasi peserta didik untuk bertanya. Penulis merasa penting sekali bagi guru untuk mengajak seluruh masyarakat sekolah untuk membudidayakan Bahasa Indonesdia sebagai bahasa pengantar dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. Deskripsi hasil siklus II
    1. Perencanaan tindakan
    2. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus 1 maka dilaksanakan kegiatan siklus II dengan tujuan unutk meningkatkan kemauan bertanya peserta didik dalam belajar, untuk itu penulis merencanakan siklus II sebanyak 3 kali pertemuan 6 x 40 menit. Materi yang disajikan adalah:
      1. Mendefinisikan Bentuk-bentuk interaksi sosial
      2. Menjelaskan  sosialisasi sebagai proses pembentukan ke pribadian
      3. Menjelaskan tahapan sosialisasi dalam pembentukan kepribadian

Rencana tindakan yang akan dilakukan tetap memberikan reinforcement selama pembelajaran berlangsung dan berusaha untuk memperbaiki proses pembelajaran dari siklus I untuk melaksanakan siklus II ini guru menyusu rencanan pelaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD, menyiapkan lembar observasi siswa dan guru, quesioner dan catatan lapangan.

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi kondisi awal

 

Sebelum penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan, penulis telah melakukan observasi guna mengetahui kondisi awal yang berkaitan dengan kemauan peserta didik dikelas VII H SMP N 1 Kec. Lareh Sago Halaban untuk bertanya dalam proses pembelajaran jika ada materi yang tidak dipahaminya. Dari hasil observasi penulis menyimpulkan bahwa kemauan peserta didik untuk bertanya masih rendah. Dari hasil observasi penulis menyimpulkan bahwa kemauan peserta didik untuk bertanya adalah 4 orang dari 24 siswa (16,63%). Hanya satu orang saja yang mengangkat sebelum bertanya (4,1%), tiga orang lainnya mengajukan pertanyaan tanpa mengangkat tangan terlebih dahulu (12,5%) masih ada satu orang diantara mereka menanyakan hal diluar materi pelajaran (4,1%) dan bertanya dengan menggunakan bahasa daerah (25%).

 

  1. Deskripsi hasil siklus I

 

  1. Perencanaan tindakan

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I terdiri dari 2 kali pertemuan (2x2x40 menit), kompetensi dasar yang disajikan adalah Mendeskripsikan kehidupan pada masa pra-aksara di Indonesia. , indikator yang hendak dicapai pada pertemuan pertama adalah Menjelaskan pengertian dan kurun waktu masa pra –aksara, Mengidentifikasi perkembangan kehidupan  manusia pada masa pra- aksara

      tujuan yang hendak dicapai pada siklus I adalah kemauan bertanya peserta didik jika ada materi yang tidak dipahaminya. Untuk mencapai tujuan ini guru menyusun rencana pembelajaran kooperatif model STAD, selama proses pembelajaran guru memberi penguatan (reinforcement) menyiapkan lembaran observasi peserta didik, guru, kuesioner dan catatan lapangan.

  1. Pelaksanaan tindakan

Kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan pendahuluan. Guru akan mengajukan beberapa pertanyaan apersepsi/prasyarat untuk mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan pengetahuan awal peserta didik, kemudian guru memberikan pertanyaan motivasi untuk menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik dengan materi yang dipelajari, selanjutnya guru menyampaikan judul dan tujuan pembelajaran. Waktu untuk kegiatan pendahuluan kurang lebih 10 menit.

 

Pada kegiatan inti guru menyajikan pembelajaran kooperatif model STAD. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4-5 orang yang bersifat heterogen (jenis kelamin, suku, dan kemampuan intelektual). Guru menyajikan pelajaran (persentasi verbal atau teks) kemudian bekerja dalam kelompok menggunakan Bahan Ajar. Ketika diskusi ini sedang berlangsung peserta didik yang mengalami kesulitan boleh bertanya pada guru dan guru akan membantu kelompok yang mengalami kesulitan tersebut. Selanjutnya peserta didik mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok, ditanggapi oleh kelompok lain dan guru mengulas jawaban peserta didik. Untuk kegiatan menutup pembelajaran guru membimbing peserta didik untuk mengambil kesimpulan dilanjutkan dengan tes proses dan pemberian tugas.

 

  1. Hasil kegiatan

Hasil kegiatan siklus I dapat dilihat pada tabel dibawah ini

Tabel 1: kemauan bertanya peserta didik pada siklus 1

No

Aktifitas peserta didik yang diamati

PERTEMUAN

RATA-RATA

I

II

A

N

A

N

1

Mengacungkan tangan sebelum bertanya

1

4,1

3

12,5

8,3

2

Tidak mengacungkan tangan sebelum bertanya

4

16,61

4

16,61

16,61

3

Menanyakan hal yang berkaitan dengan materi

5

20,81

7

29,11

24,96

4

Menanyakan hal yang tidak berkaitan dengan materi

0

0

0

0

0

5

Menggunakan Bahasa Indonesia

0

0

0

0

0

6

Menggunakan bahasa daerah

5

20,81

7

29,11

24,96

7

Jumlah peserta didik yang bertanya

5

20,81

7

29,11

24,96

Keterangan:

A=jumlah peserta didik sesuai dengan aktifitas siswa yang diamati

B=jumlah peserta didik yang hadir setiap kali pertemuan (24 orang)

N=persentase perolehan sesuai dengan aktifitas yang diamati

Jika dibandingkan dengan kondisi awal maka hasil kegiatan siklus 1 dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 2: perbandingan kemauan bertanya siklus I dengan kondisi awal

No

Aktifitas siswa yang diamati

Kondisi awal

Siklus I

Perubahan

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

1

Mengacungkan tangan sebelum bertanya

1

4,1

2

8,3

1

4,1

2

Tidak mengacungkan tangan sebelum bertanya

3

12,5

4

16,1

1

4,1

3

Menanyakan hal yang berkaitan dengan materi

3

12,5

6

0,25

2

8,3

4

Menanyakan hal yang tidak berkaitan dengan materi

1

4,1

0

0

1

4,1

5

Menggunakan Bahasa Indonesia

0

0

0

0

0

0

6

Menggunakan bahasa daerah

4

16,1

6

0,25

2

8,2

7

Jumlah peserta didik yang bertanya

4

16,1

6

0,25

2

8,2

Tabel 3: penguatan (reinforcement) yang diberikan guru terhadap peserta didik yang mau bertanya pada siklus 1

Kondisi awal

Siklus

Pertemuan I

Pertemuan II

Tidak selalu memberikan reinforcement

4

6

Keterangan: salah satu peserta didik yang bertanya tidak mendapat penguatan (reinforcement) pada siklus I

Berdasarkan tabel diatas maka dapat kita lihat bahwa ada peningkatan persentase kemauan bertanya peserta didik dari kondisi awal hingga berakhirnya siklus I. Jumlah peserta didik yang mau bertanya pada kondisi awal hanya 4 orang (16,1%) meningkat menjadi 6 orang (0,25%) dari 4 orang peserta didik yang bertanya pada kondisi awal hanya satu orang yang mau bertanya. 4,1% yang mengacungkan tangan sebelum bertanya dan meningkat menjadi 2 orang (8,3) pada siklus I jumlah peserta didik yang mau bertanya tanpa mengacungkan tangan juga mengalami peningkatan dari 3 orang (12,5%) pada kondisi awal menjadi 4 orang (16,1%) pada siklus I tapi pada siklus I semua menanyakan hal yang berkaitan dengan materi. Peserta didik yang bertanya semuanya menggunakan bahasa daerah baik kondisi awal maupun pada siklus I.

4 . Refleksi

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus I diatas dapat kita lihat bahwa dengan memberikan penguatan (reinforcement) dalam proses pembelajaran terdapat peningkatan kemauan bertanya peserta didik walaupun hasil itu belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Persentase jumlah peserta didik yang mau bertanya meningkat (8,3%) artinya pemberian reinforcement dari guru memberi pengaruh yang positif sehingga peserta didik akan termotivasi untuk bertanya, baik penguatan verbal ataupun non verbal. Tidak dapat dipungkiri bahwa kadang kala guru masih lupa memberikan reinforcement terhadap peserta didik yang mau bertanya. Salah seorang peserta didik pada pertemuan pertama tidak mendapatkan penguatan setelah bertanya, demikian juga pada pertemuan ke dua, hal ini hendaknya diperbaiki pada siklus ke dua. Jumlah peserta didik yang mengacungkan tangan sebelum bertanya mengalami peningkatan sebesar (4,1%) hal ini berkaitan dengan tindakan guru yang memberikan penguatan sekaligus menanamkan pendidikan yang berkarakter dalam proses pembelajaran. Jumlah peserta didik yang tidak mengacungkan tangannya sebelum bertanya juga mengalami peningkatan sebesar (4,1%). Hal itu berkaitan dengan kebiasaan siswa selama ini yang memang sering bertanya pada guru secara langsung tanpa mengangkat tangan terlebih dahulu. Melalui kuesioner diperoleh data peserta didik yang lebih sering bertanya langsung tanpa angkat tangan terlebih dahulu adalah 88,8%. Penulis yakin dengan melaksanakan pendidikan yang berkarakter disetiap proses pembelajaran, hal ini akan dapat diperbaiki. Semua peserta didik yang mau bertanya (0,25%) pada siklus satu menanyakan hal yang berkaitan dengan materi, mereka berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang terdapat pada LKS. Semua peserta didik yang mau bertanya (0,25%) masih menggunakan bahasa daerah, memang didalam kehidupan sehari-hari mereka tidak terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia, termasuk dilingkungan sekolah. Kadangkala bahasa yang mereka gunakan menjadi bahan olok-olokan temannya, karena setiap daerah mempunyai logat sendiri-sendiri, hal ini dapat menurunkan motivasi peserta didik untuk bertanya. Penulis merasa penting sekali bagi guru untuk mengajak seluruh masyarakat sekolah untuk membudidayakan Bahasa Indonesdia sebagai bahasa pengantar dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Deskripsi hasil siklus II

 

  1. Perencanaan tindakan

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus 1 maka dilaksanakan kegiatan siklus II dengan tujuan unutk meningkatkan kemauan bertanya peserta didik dalam belajar, untuk itu penulis merencanakan siklus II sebanyak 3 kali pertemuan 2 x 40 menit. Materi yang disajikan adalah Mendefinisikan Bentuk-bentuk interaksi sosial ,Menjelaskan  sosialisasi sebagai proses pembentukan ke pribadian ,Menjelaskan tahapan sosialisasi dalam pembentukan kepribadian .

Rencana tindakan yang akan dilakukan tetap memberikan reinforcement selama pembelajaran berlangsung dan berusaha untuk memperbaiki proses pembelajaran dari siklus I untuk melaksanakan siklus II ini guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD, menyiapkan lembar observasi siswa dan guru, quesioner dan catatan lapangan.

  1. Pelaksanaan tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus II sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah tersusun, langkah kegiatan yang sama dengan siklus I guru berusaha untum memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan kemauan bertanya peserta didik.

  1. Hasil kegiatan

Hasil kegiatan siklus II terlihat pada tabel dibawah ini,

Tabel 4: kemauan bertanya peserta didik pada siklus II

No

Aktifitas peserta didik yang diamati

PERTEMUAN

RATA-RATA

I

II

III

A

N

A

N

A

N

1

Mengacungkan tangan sebelum bertanya

5

20,8

6

0,25

7

29,71

0,25

2

Tidak mengacungkan tangan sebelum bertanya

3

12,5

3

12,5

3

12,5

12,5

3

Menanyakan hal yang berkaitan dengan materi

8

33,3

9

37,5

10

41,61

37,5

4

Menanyakan hal yang tidak berkaitan dengan materi

0

0

0

0

0

0

0

5

Menggunakan Bahasa Indonesia

1

4,1

1

4,1

1

4,1

4,1

6

Menggunakan bahasa daerah

7

29,71

8

33,3

9

37,5

33,3

7

Jumlah peserta didik yang bertanya

8

33,3

9

37,5

10

41,61

37,5

Jika dibandingkan dengan siklus I maka hasil kegiatan siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Tabel 5: Kemauan bertanya peserta didik pada siklus I dengan siklus II

No

Aktifitas siswa yang diamati

Siklus I

Siklus II

Perobahan

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

1

Mengacungkan tangan sebelum bertanya

2

8,3

6

0,25

4

16,61

2

Tidak mengacungkan tangan sebelum bertanya

4

16,61

3

12,5

1

4,1

3

Menanyakan hal yang berkaitan dengan materi

6

0,25

9

37,5

3

12,5

4

Menanyakan hal yang tidak berkaitan dengan materi

0

0

0

0

0

0

5

Menggunakan Bahasa Indonesia

0

0

1

4,1

1

4,1

6

Menggunakan bahasa daerah

6

0,25

8

33,3

2

8,3

7

Jumlah peserta didik yang bertanya

6

0,25

9

37,5

3

12,5

Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa terdapat peningkatan kemauan bertanya peserta didik pada siklus II jumlah peserta didik yang mau bertanya pada siklus I adalah 6 orang (0,25) meningkat menjadi 9 orang (37,5) pada siklus II. Terjaadi peningkatan yang cukup signifikan berkaitan dengan jumlah peserta didik yang mengacungkan tangan sebelum bertanya yaitu 2 orang (8,3) pada siklus I menjadi 6 orang (0,25) pada siklus II sedangkan jumlah peserta didik yang tidak mengacungkan tangan sebelum bertanya mengalami penurunan dari 4 orang (16,61) pada siklus I menjadi 3 orang(12,5) pada siklus II. Peserta didik yang mau bertanya semuanya 37,5% menanyakan hal yang berkaitan dengan materi pada siklus II. Salah satu diantara mereka (4,1%) yang telah menggunakan Bahasa Indonesia.

Jika kita bandingkan hasil kegiatan siklus I dan siklus II dengan kondisi awal maka persentase masing-masing dapat kita lihat pada tabel dibawah ini,

Tabel 6: kemauan bertanya peserta didik pada kondisi awal, siklus I dan siklus I

No

Aktifitas siswa yang diamati

Kondisi awal

Siklus I

Siklus II

 

 

 

 

 

 

1

Mengacungkan tangan sebelum bertanya

1

4,1

2

8,3

6

0,25

2

Tidak mengacungkan tangan sebelum bertanya

3

12,5

4

16,61

3

12,5

3

Menanyakan hal yang berkaitan dengan materi

3

12,5

6

0,25

9

37,5

4

Menanyakan hal yang tidak berkaitan dengan materi

1

4,1

0

0

0

0

5

Menggunakan Bahasa Indonesia

0

0

0

0

1

4,1

6

Menggunakan bahasa daerah

4

16,61

6

0,25

8

33,3

7

Jumlah peserta didik yang bertanya

4

16,61

6

0,25

9

33,3

Tabel 7: penguatan (reinforcement) yang diberikan guru terhadap peserta didik yang bertanya pada siklus II

Pertemuan I

Pertemuan II

Pertemuan III

8

9

10

Ket: semua peserta didik yang bertanya mendapat penguatan pada siklus I

4 . Refleksi

Pada siklus II terlihat bahwa kemauan peserta didik untuk bertanya semakin meningkat, persentase peserta didik yang mau bertanya meningkat sebesar (12,5%). Guru telah berusaha untuk memberikan berbagai penguatan verbal dan non verbal terhadap peserta didik yang mau bertanya. Ada beberapa alasan peserta didik tidak mau bertanya walaupun mereka kurang memahami materi, penulis menghimpunnya melalui kuesioner yang diberikan yaitu, takut salah (85,18%), takut ditertawakan teman (92,59%), karena tidak membaca materi yang akan dipelajari dirumah (85,18%), serta karena tidak fasih menggunakan bahasa indonesia (100%)

Peningkatan cukup signifikansi terjadi pada persentase peserta didik yang mengacungkan tangan sebelum bertanya yaitu sebesar (16,61%) artinya terdapat pengaruh yang positif jika reinforcement diberikan oleh guru secara terus menerus tanpa ada yang terlupa. Seiring dengan itu persentase peserta didik yang bertanya tanpa mengacungkan tangan terlebih dahulu mengalami penurunan sebesar 4,1%, hal ini erat kaitannya dengan pemberian reinforcement dalam pembelajaran berkarakter yang dilakukan oleh guru. Seluruh peserta didik yang bertanya dikelas VII h menanyakan hal yang berkaitan dengan materi dan satu diantaranya 4,1% telah menggunakan bahasa indonesia ini awal yang baik untuk kita berusaha terus membudayakan bahasa indonesia disekolah.

Penulis menyadari dengan selalu memotivasi peserta didik untuk bertanya maka pembelajaran akan semakin menarik, tidak membosankan, terjadi interaksi antara guru dengan peserta didik, sesama peserta didik dan peserta didik dengan sumber belajar. Dengan demikian pembelajaran berbasis paikem itu dapat diwujudkan. Kemauan bertanya peserta didik perlu ditingkatkan karena bertanya merupakan gerbang ilmu pengetahuan dengan bertanya berarti dapat menjawab rasa ingin tahu peserta didik terhadap yang baru, bukankah seorang ilmuwan dapat menemukan berbagai hal yang baru karena karakter pikirannya yang haus dengan pengetahuan? Guru merupakan fasilitator untuk menjawab keingintahuan peserta didik, oleh sebab itu mari kita motivasi siswa agar mau bertanya. Pada awalnya memang berat, tetapi jika dilatih terus menerus maka bertanya menjadi hal yang menyenangkan karena dapat membuka cakrawala berpikir peserta didik.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan sebanyak dua siklus dapat disimpulkan bahwa:

  1. Reinforcement yang diberikan guru dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan kemauan bertanya siswa dapat dilihat pada kondisi awal per-persentase peserta didik yang mau bertanya adalah 16,6% meningkat menjadi 23,6% pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 34,66% pada siklus II.
  2. Berdasarkan persentase peserta didik yang mau bertanya pada penelitian ini mencapai target yang ditetapkan yaitu minimal 30% dari jumlah peserta didik, semua peserta didik yang mau bertanya juga menanyakan tentang materi yang dipelajari (100), tetapi persentase jumlah peserta didik yang mengajukan tangan sebelum bertanya hanya 60% artinya tidak mencapai target yang ditetapkan yaitu 100%, peserta didik yang bertanya dengan menggunakan bahasa Indonesia hanya 15,66% artinya juga tidak mencapai target yang ditetapkan (50%).
  3. Saran
    1. Guru hendaknya selalu memberikan penguatan terhadap semua aktifitas positif peserta didik sehingga peserta didik lbih termotivasi untuk bertanya jika ada hal yang belum dipahami
    2. Diharapkan guru dapat membimbing peserta didik untuk membiasakan menggunakan bahasa indonesia dalam linkungan sekolah sehingga tidak ada lagi peserta didik yang malu untuk bertanya dengan alasan tidak fasih menggunakan bahasa indonesia
    3. Guru harus memilih metode dan model pembelajaran yang tepat sehingga peserta didik lebih termotivasi lagi untuk belajar
    4. Diharapkan guru dapat membimbing peserta didik untuk membiasakan menggunakan bahasa indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alma, Buchari dkk. 2008. Guru Profesional (menguasai metode dan terampil mengajar), Bandung: Alfabeta

Ibrahim Muslim dkk.2000. pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESIA, University press lie anita. Cooperative Learning (mempraktikkan cooperative learning di ruang-ruang kelas). Jakarta, Grasindo.

Prihati, Eka. 2008. Guru sebagai fasilitator. Bandung, Karsa Media Persada

Sa’adi Ma’mur dkk. 2007. Strategi pembelajaran bahasa indonesia. Jakarta: University Terbuka

Slavin, Robert E 2009. Cooperative learning (teori, riset dan praktik). Bandung: Nusa Media

 

RPP UNTUK SMP KELAS VII

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 (RPP)

 

Nama Sekolah                       :     SMP N 1 Lareh Sago Halaban           

Mata Pelajaran                     :      Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / Semester                  :      VII / 1

Standar Kompetensi           :      1.         Memahami lingkungan kehidupan manusia

Kompetensi Dasar               :      1.1.     Mendiskripsikan keragaman bentuk muka    bumi,  proses pembentukan dan dampaknya   terhadap kehidupan

Indikator                                  :

1.1   Mendeskripsikan proses alam endogen yang menyebabkan terjadi bentuk muka bumi

1.2   Mendeskripsikan gejala diatrofisme dan vulkanisme serta sebaran gunung api

1.3   Menjelaskan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi dan akibat yang ditimbulkannya

1.4    Mengidentifikasi jenis batuan berdasarkan proses pembentukannya

1.5   Mendeskripsikan proses pelapukan   

1.6   Mendeskripsikan proses erosi dan faktor-faktor penyebabnya

1.7   Memberikan contoh batuan yang dihasilkan oleh proses sedimentasi

1.8   Mengidentifikasi dampak positif dan negatif dari tenaga endogen dan eksogen bagi kehidupan serta upaya penanggulangannya

Alokasi Waktu                       :      4 x Pertemuan

TUJUAN PEMBELAJARAN    :

  1. Menjelaskan pengertian tenaga eksogen dan endogen
  2. Menjelaskan gejala diatrofisme dan vulkanisme serta tipe gunung api
  3. Menjelaskan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi dan akibat yang ditimbulkannya
  4. Mengidentifikasi jenis batuan berdasarkan proses pembentukannya
  5. Mendeskripsikan proses pelapukan  
  6. Menjelaskan proses erosi dan faktor-faktor penyebabnya
  7. Memberikan contoh batuan yang dihasilkan oleh proses sedimentasi
  8. Mengidentifikasi dampak positif dan negatif dari tenaga endogen dan eksogen bagi kehidupan serta upaya penanggulangannya

 

 

Karakter Bangsa :            

     §   Kreatif

     §   Mandiri

     §   Gemar membaca

     §   Tanggung jawab

     §   Kerja keras

     §   Peduli sosial

 

MATERI  PEMBELAJARAN    :

  1.  Tenaga eksogen dan endogen
  2. Gejala diatrofisme dan vulkanisme serta tipe gunung api
  3. faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi dan akibat yang ditimbulkannya
  4.  batuan berdasarkan proses pembentukannya
  5. proses pelapukan  
  6. proses erosi dan faktor-faktor penyebabnya
  7.  contoh batuan yang dihasilkan oleh proses sedimentasi
  8. dampak positif dan negatif dari tenaga endogen dan eksogen bagi kehidupan serta upaya penanggulangannya

 

         METODE PEMBELAJARAN    :

  1. Ceramah bervariasi
  2.   Diskusi
  3. Tanya jawab

       

LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN    :

        Pertemuan I :

  1. a.        Pendahuluan
    1. Absensi
    2. Motifasi : menampilkan gambar bentuk permukaan bumi
    3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
    4. Guru menyampaikan cakupan materi

 

        b.     Kegiatan Inti      :

  1. Mengarahkan peserta didik untuk menbaca buku sumber dan mengamati gambar yang berkiatan dengan muka bumi daratan dan lautan
  2. Tanya jawab tentang macam-macan bentuk muka bumi daratan dan lautan
  3. Peserta didik mengerjakan tugas secara individu dengan mengelompokkan bentuk muka bumi daratan dan lautan
  4. Peserta didik beserta teman sebangku mendiskusikan tentang materi tersebut
  5. Salah seorang peserta didik diminta untuk membacakan tugas yang telah dikerjakan dan ditanggapi peserta didik lain
  6. Tanya jawab dan penguatan materi dari guru

 

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

 

        Pertemuan 2       :

a. Pendahuluan

  1. Absensi
  2. Apersepsi : diingatkan kembali pelajaran yang sudah lalu yaitu bentuk muka bumi
  3. Motifasi : menampilkan gambar bentuk permukaan bumi
  4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
  5. Guru menyampaikan cakupan materi

 

        b.     Kegiatan Inti      :

  1. Mengarahkan peserta didik untuk menbaca Bahan ajar  dan mengamati gambar bentuk  muka bumi dari hasil tenaga pembentuk muka bumi
  2. Peserta didik berdiskusi dengan teman sebangku tentang macam-macan tenaga pembentuk muka bumi
  3. Salah seorang peserta didik di minta untuk kedepan membaca tentang tenaga pembentuk muka bumi dan ditanggapi kelompok lain
  4. Tanya jawab dan penguatan materi dari guru

 

        c.     Penutup       :

  1. Peserta didik dibimbing untuk dapat menyimpulkan materi
  2. Penugasan dengan memberi tugas individu peserta didik dapat mencari gambar bentuk muka bumi dari hasil tenaga pembentuk muka bumi

 

        Pertemuan 3       : 

  1. Absensi
  2. Apersebsi : mengingatkan kembali pelajaran terdahulu yaitu tenaga pembentuk muka bumi
  3. Menyampaikantujuan pembelajaran
  4. Menyampaikan cakupan materi

         Kegiatan Inti :

1. Peserta didik membaca bahan ajar atau buku paket

2. Peserta didik berdiskusi dengan teman tentang dampak positif dan negatif tenaga pembentuk muka bumi terhadap kehidupan

3. Salah seorang peserta didik disuruh kedepan dan membacakan dampak positif dan negatif dari tenaga pembentuk muka bumi dan ditanggapi oleh teman lain

4. Tanya jawab tentang materi yang belum dipahami

5. Penguatan materi dari guru

c. Kegiatan Penutup

a. Peserta didik dibimbing untuk menyimpulkan materi

b.Penugasan bagi peserta didik untuk mencatat tentang materi yang sudah dipelajari

c. Tes kecil daripertanyaan yang sudah dibahas

     

SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN   :

                                  -Buku sumber yang relevan

                                  -Foto-foto /gambar

                                  -Bahan ajar

 

                PENILAIAN

  • Teknik penilaian

                                                          – Tes tertulis

                                                          – Tes unjuk kerja

  • Bentuk instrumen : tes uraian

Soal :

  1. tuliskan bentuk-bentuk muka bumi yang terdapat di daratan
  2. tulislan bentuk muka bumi yang terdapat di daratan
  3. .jelaskan bentuk tenaga muka bumi
  4. tuliska 2 tenaga pembentuk permukaan bumi
  5. jelaskan pengertian tenaga endogen beserta contoh !
  6. jelaskan pengertian tenaga eksogen beserta contohnya !
  7. tuliskan dampak positif dan negatif tenaga endogen terhadap kehidupan
  8. tuliskan dampak positif dan negatif tenaga eksogen terhadap kehidupan

 

 

Guru Pamong

 

 

MUDARNIS,S.Pd

NIP.19611009 198301 2005

 

PAKAN RABAA,   JULI 2013

Mahasiswa PL

 

 

ZETRIA AFNIATI

NIM.1010007933207

 

 

Mengetahui

Kepala Sekolah SMP N 1

LAREH SAGO HALABAN

 

 

M.YUSUF LUBIS,S.Pd

NIP.1968417 1994121002

 

 

 

 

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

( RPP  )

 

Satuan Pendidikan      : SMP N 1 Lareh Sago Halaban

Mata Pelajaran            : IPS

Kelas/Semester           : VII / 1 (Ganjil)

Standar Kompetensi    : Memahami lingkungan kehidupan manusia.

Kompetensi dasar       : Mendeskripsikan kehidupan pada masa pra-aksara di Indonesia.

Indikator                      :

  1. Menjelaskan pengertian dan kurun waktu masa pra –aksara
  2. Mengidentifikasi perkembangan kehidupan  manusia pada masa pra- aksara
  3. Mendeskripsikan perkembangan kehidupan pada masa pra- aksara dan peralatan kehidupan yang dipergunakan.
  4. Mengidentiifikasi peninggalan –peninggalan kebudayaan pada masa pra-aksara.
  5. Melacak kedatangan dan persebaran nenek moyang bangsa Indonesia di Nusantara dengan atlas sejarah.
  1. a.      Tujuan Pembelajaran

Setelah pembelajaran diharapkan siswa mampu:

  1. Menjelaskan pengertian dan kurun waktu masa pra –aksara
  2. Membedakan sumber sejarah dengan pra-aksara
  3. Mengidentifikasi jenis- jenis manusia Indonesia yang hidup pada masa pra- aksara
  4. Mendeskripsikan perkembangan kehidupan pada masa pra- aksara dan peralatan kehidupan yang dipergunakan.
  5. Mengidentiifikasi peninggalan –peninggalan kebudayaan pada masa pra-aksara.
  6. Melacak kedatangan dan persebaran nenek moyang bangsa Indonesia di Nusantara dengan atlas sejarah.

 

 

 

 

  1. b.      Materi Pembelajaran
    1. Pengertian pra –aksara /Pra Sejarah adalah suatu pembabakan dalam periode sejarah yang berlangsung cukup lama .ditandai dengan belum ditemukan salah satu peradaban manusia berupa keterangan tertulis .
    2. Kurun waktu masa pra aksara

Pembabakan masa pra-aksara Indonesia dimulai sejak tahun 1920 oleh beberapa peneliti asing ,seperti PN .Van Stein Callenfels,Van Der Hood.

Oleh para ahli pembabakan Masa pra aksara Indidasarkan pada penemuan alat-alat yang digunakan oleh manusia pra aksara .. penelitian tersebut diperoleh dari pengggalian –penggalian benda purbakala dan Fosil manusia purba.

*        Pembabakan  zaman pra –aksara berdasarkan arkeologi dapat dibagi :

  1. Zaman batu, yaitu pada zaman ini alat –alat kehidupan terbuat dari batu . zaman ini dibedakan menjadi :

                                                                                                          –            Zaman batu tua ( Paleolitikum )

                                                                                                          –            Zaman batu madya ( mesolitikum )

                                                                                                          –            Zaman batu muda ( neolitikum )

                                                                                                          –            Zaman batu besar ( megalitikum )

  1. Zaman logam

Pada zaman ini alar-alat dari logam telah dikenal dan digunakan secara dominan , tapi bukan berakhirnya zaman batu.

*        Pembabakan masa pra-aksara berdasarkan ciri-ciri kehidupan masyarakat .

                                                                                  –            Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana

                                                                                  –            Masa mengumpulkan makanan tingkat lanjut

                                                                                  –            Masa bercocok tanam

                                                                                  –            Masa perumdagian

  1. Jenis-jenis manusia purba di indonesia

a)      Megantropus

Meganteopus Paleojavanicus adalah manusia yang paling primitif yang ditemukan oleh para arkeologi tahun 1936 dan 1941 di sangiran .

b)      Pithecanthopus erectus

Adalah fosil manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia yaitu di Mojokerto ,trinil sangiran dan ngandong .

c)      Homo sapiens

Ditemukan didekat tulung Agung jawa timur pada 1889.

 

  1. Pra aksara /pra sejarah indonesia

Setelah mengalami proses Evolusi peradaban pra sejarah indonesia memasuki zaman perundagian ,yang ditandai dengan timbulnya kepandaian mengelolah biji besi atau timah menjadi alat-alat keperluan sehari-hari .

  1. Kedatangan nenek noyang dan penyebaranya di Indonesia .
  2. c.       Metode  Pembelajaran
  3. d.      Sumber :
  4. e.      Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
    1. a.      Pertemuan I
  1. Ceramah bervariasi
  2. Inquiri
  3. Tanya jawab
  4. Kuis
  1. Buku Sejarah kelas VII yang relavan
  2. Guru IPS
  3. Bahan ajar

        §   Pendahuluan

                                                          –            Absensi

                                                          –            Apersepsi        : siswa disuruh menyebutkan binatang purba yang diketahuinya

                                                          –            Motivasi          :menayangkan gambar manusia purba di papan tulis

        §   Kegiatan Inti

  1. Tanya jawab tentang pengertian zaman pra-aksara dengan dejarah
  2. Tanya jawab tentang sumber sejarah dan pra sejarah

        §   Penutup

                                                          –            Menyimpulkan materi bersama-sama siswa

                                                          –            Penilaian

                                                          –            Refleksi

 

  1. b.      Pertemuan II

        §   Pendahuluan

                                                          –            Absensi

                                                          –            Apersepsi : jelaskan perbedaan zaman pra-sejah dengan sejarah

                                                          –            Motivasi   : menayangkan jenis-jenis manusia purba dan alat yang digunakan

        §   Kegiatan Inti

Siswa dibagi menjadi 4-5 kelompok setiap kelompok diberi tugas untuk mencari dibuku sumber mengenai :

                                                          –            Jenis-jenis manusia purba yang ditemukan di indonesia

                                                          –            Tempat ditemukan

                                                          –            Penemu

                                                          –            Perbedaan pitecan Thropus erectus dengan homo sapien

                                                          –            Jenis-jenis manusia

        §   Penutup

                                                          –            Menyimpulkan materi bersama-sama siswa

                                                          –            Penilaian

                                                          –            Refleksi

  1. c.       Pertemuan III

        §   Pendahuluan

                                                          –            Absensi

                                                          –            Apersepsi : sebutkan 3 jenis manusia purba yang ditemukan di

       Indonesia dan luar Indonesia

                                                          –            Motivasi : menayangkan gambar alat-alat peninggalan pada zaman pra

     aksara

        §   Kegiatan inti

                                                          –            Siswa dibagi atas 3 kelompok

                                                          –            Kelompok I tugasnya tentang masa meramu dan mengumpulkan makanan

                                                          –            Kelompok II masa bercocok tanam

                                                          –            Kelompok III masa perundagian

                                                          –            Setiap kelompok mempersentasikan hasil kerjanya di depan kelas

        §   Penutup

                                                          –            Menyimpulkan materi bersama-sama siswa

                                                          –            Penilaian

                                                          –            Refleksi

  1. d.      Pertemuan IV

        §   Pendahuluan

                                                          –            Absensi

                                                          –            Apersepsi : siswa disuruh menjelaskan perbedaan kehidupan masa

       berburu dan mengumpulkan makanan dengan masa

       bercocok tanam

                                                          –            Motivasi : menayangkan peta asia tenggara

        §   Kegiatan Inti

                                                          –            Tanya jawab tentang kedatangan dan persebaran mnenek moyang bangsa indonesia di Nusantara

                                                          –            Siswa disuruh membuat peta jalur kedatangan dan sebaran nenek moyang bangsa indonesia

        §   Penutup

                                                          –            Menyimpulkan

                                                          –            Penialaian

                                                          –            Refleksi

 

 

  1. e.      Sumbjelaskan perbedaan ciri-ciri kehidupan er dan media pembelajaran

                                              –            Buku sumber yang relevan

                                              –            Atlas sejarah

                                              –            Foto-foto

                                              –            Gambar-gambar sejarah

                                              –            Situs sejarah

  1. f.        Penilaian

                                              –            Teknik penilaian

  1. Tes tulis
  2. Tes unjuk rasa

                                  –            Bentuk isntrumen

  1. Tes uraian

                                  –            Soal intrumen

  1. Jelaskan perbedaan zaman pra Aksara dengan zaman prasejarah
  2. Sebutkan tipe jenis manusia purba yang ditemukan di indonesia ,penemunya dan tempat ditemukan
  3. Sebutkan 2 jenis manusia purba yang ditemukan diluar indonesia
  4. Jelaskan perbedaan ciri-ciri kehidupan pada masa berburu dan mengumpulkan makanan dengan masa bercocok tanam
  5. Buatlah jalur kedatangan dsan persebaran nenek moyang bangsa indonesia

 

Guru Pamong

 

 

MUDARNIS,S.Pd

NIP.19611009 198301 2005

 

PAKAN RABAA,   JULI 2013

Mahasiswa PL

 

 

ZETRIA AFNIATI

NIM.1010007933207

 

 

Mengetahui

Kepala Sekolah SMP N 1

LAREH SAGO HALABAN

 

 

M.YUSUF LUBIS,S.Pd

NIP.1968417 1994121002

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 (RPP)

Nama Sekolah                           :     SMP N 1 Lareh Sago Halaban

Mata Pelajaran                         :      Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / Semester                     :      VII / 1

Standar Kompetensi              :      2.         Memahami kehidupan sosial manusia

Kompetensi Dasar                   :      2.1.     Mendiskripsikan interaksi sebagai proses sosial 

Indikator                                     :   2.1.1 menjelaskan pengertian interaksi sosial

                                                            2.1.2 menjelaskan kaitan interaksi sosial dan proses sosial

                                                            2.1.3 menjelaskan pengaruh interaksi sosial terhadap keselarasan sosial

Alokasi Waktu                           :      4 jam pelajaran ( 2 x pertemuan )

 

  1. A.     TUJUAN PEMBELAJARAN*   :

     Setelah selesai melaksanakan kegiatan pembelajarfan, siswa dapat :

  1. Menjelaskan pengertian interaksi sosial
  2. Menjelaskan pengertian proses sosial
  3. Menjelaskan kaitan interaksi sosial dan proses sosial dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan terdekat
  4. Membedakan antara interaksi sosial dan proses sosial
  5. Menyebutkan pengaruh interaksi sosial terhadap keselarasan social

Karakter siswa yang diharapkan :    

  • gemar membaca
  • Mandiri
  • Rasa ingin tahu
  • Tanggung jawab
  • Kreatif

 

  1. B.      MATERI  PEMBELAJARAN     :

        1.   Pengertian interaksi sosial

        2.   Pengertian proses sosial

        3.   Kaitan interaksi sosial dan proses sosial dalam kehidupan sehari-hari

        4.   Perbedaan interaksi sosial dan proses sosial

        5.   Pengaruh interaksi sosial terhadap keselarasan social

 

  1. C.      METODE PEMBELAJARAN     :

        1.   Ceramah bervariasi

        2.   Diskusi

        3.   Inquiry

        4.   Tanya jawab

        5.   Simulasi

        6.   Observasi / pengamatan

 

  1. D.     LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN     :

        Pertemuan I :

  1. Pendahuluan

~   Apersepsi        :      Siswa memilih kawan yang memiliki hobi berbeda

~   Motivasi           :      Ditampilkan gambar keluarga kecil

 

  1. Kegiatan Inti       :
  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • Menjelaskan pengertian interaksi sosial
  • Menjelaskan pengertian proses sosial
  • Menjelaskan kaitan interaksi sosial dan proses sosial dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan terdekat
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

 

  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • Siswa dibagi menjadi 2 kelompok besar, tiap kelompok besar dibagi menjadi 3 kelompok kecil beranggotakan 5 – 7 anak.
  • Kelompok besar I: Memperagakan interaksi dua arah melalui alat komunikasi
  • Kelompok besar II : Memperagakan proses interaksi dengan cara berdialog.
  • Setiap kelompok melakukan diskusi :
    • Kelompok besar I :
  1. Mendiskusikan manfaat alat komunikasi, misal HP.
  2. mendiskusikan tata cara / performent dalam berkomunikasi,
  3. mendiskusikan berbagai kemungkinan akibat penggunaan alat komunikasi.
  • Kelompok besar II :
  1. Mendiksusikan manfaat berdialog

b. mendiskusikan tata cara / performent dalam berdialog

  1. mendiskusikan kelebihan dan kelemahan interaksi dialog.
  • Setiap kelompok membuat hasil laporan dari diskusi kelompok
  • Setiap kelompok besar mewakilkan salah satu kelompok kecil yang disepakati untuk  mempresentasikan.
  • Kelompok lain menanggapi/tanya jawab.
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

 

3. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  • Siswa mengungkapkan kelebihan dan kekurangan interaksi dengan menggunakan alat komunikasi maupun dengan cara dialog.

 

        Pertemuan II :

        a.    Pendahuluan

               1.     Apersepsi        :      Siswa mengadakan simulasi tentang rapat organisasi

               2.     Motivasi           :      Ditampilkan gambar suasana rapat reorganisasi

 

        b.    Kegiatan Inti       :

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

 

  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • Siswa dibagi menjadi 2 kelompok besar, tiap kelompok besar dibagi menjadi 3 kelompok kecil beranggotakan 5 -7 orang
  • Kelompok I :  mendiskusikan pengertian interaksi sosial terhadap keselarasan sosial.
  • Kelompok II  :       mendiskusikan pengaruh interaksi sosial terhadap keselarasan  sosial
    • Kelompok I    :

1. Pengertian interaksi sosial,

2. Keselarasan sosial

3. Hubungan antara interaksi sosial dengan keselarasan sosial

  • Kelompok II  :

a. Berbagai penyebab interaksi sosial

b.Berbagai bentuk interaksi sosial

c. Berbagai pengaruh sebab akibat interaaksi sosial.

d. Setiap kelompok membuat hasil laporan dari diskusi kelompok

  • Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan dan kelompok lain memberikan tanggapan
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

 

  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,
  • memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,
  • memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,
  • memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
    • berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
    • membantu menyelesaikan masalah;
    • memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
    • memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
    • memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

 

  1. E.      SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN:
  2. Pelajaran Pengetahuan Sosial Kelas VII,
  3. Gambar keluarga kecil
  4. Alat komunikasi/HP

 

  1. F.      PENILAIAN  :
    1. Jelaskan syarat-syarat terjadinya  interaksi sosial.
    2. Jelaskan kaitan interaksi sosial dengan proses sosial!
    3. Jelaskan pengertian interaksi social
    4. Interaksi terjadi dalam tiga pola. Sebut dan jelaskan!
    5. Mengapa orang atau individu melakukan interaksi social
    6. Sebutkan tujuan interaksi social
    7. mengapa reaksi seseorang terhadap riasan orang lain sudah dapat dikatakan sebagai interaksi social
    8. Buatlah kliping yang terdiri dari 5 peristiwa proses assosiatif dan 5 proses dissosiatif dari surat kabar atau tabloid.

 

Guru Pamong

 

 

MUDARNIS,S.Pd

NIP.19611009 198301 2005

 

PAKAN RABAA,   JULI 2013

Mahasiswa PL

 

 

ZETRIA AFNIATI

NIM.1010007933207

 

 

Mengetahui

Kepala Sekolah SMP N 1

LAREH SAGO HALABAN

 

 

M.YUSUF LUBIS,S.Pd

NIP.1968417 1994121002

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 (RPP)

 

Nama Sekolah                       :     SMP N 1 Lareh Sago Halaban           

Mata Pelajaran                     :       Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / Semester                  :       VII / 1

Standar Kompetensi           :       2.         Memahami kehidupan sosial manusia

Kompetensi Dasar               :       2.2.     Mendiskripsikan sosialisasi sebagai proses  pembentukan kepribadian 

Indikator                                  : 2.2.1 menjelaskan pengertian dan pentingnya proses sosialisasi

                                                      2.2.2 mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi sosialisasi

                                                      2.2 3 menguraikan fungsi sosialisasi dalam pembentukan kepribadian

Alokasi Waktu                       :  6 jam pelajaran ( 3 x pertemuan )

 

  1. A.       TUJUAN PEMBELAJARAN    :

     Setelah selesai melaksanakan kegiatan pembelajarfan, siswa dapat :

  1. Menjelaskan pengertian sosialisasi
  2. Mengkaji penyebab terjadinya sosialisasi
  3. Menjelaskan fungsi sosialisasi dalam pembentukan kepribadian

 

Karakter siswa yang diharapkan :    

  • Gemar membaca
  • Rasa hormat dan perhatian
  • Rasa ingin tahu
  • Kreatif
  1. B.        MATERI  PEMBELAJARAN    :

         1.   Pengertian dan tujuan sosialisasi

         2.   Faktor yang mempengaruhi sosialisasi

         3.   Fungsi sosialisasi dalam pembentukan kepribadian

  1. C.       METODE PEMBELAJARAN    :

         1.   Ceramah bervariasi

         2.   Diskusi

         3.   Inquiry

         4.   Tanya jawab

         5.   Simulasi

         6.   Observasi / pengamatan

  1. D.       LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN    :

             Pertemuan I :

             a.       Pendahuluan

                        –  Apersepsi        :      Jelaskan pengertian proses sosialisasi

      –  Motivasi           :      Siswa dapat bertukar pendapat mengenai fungsi sosialisasi dalam  pembentukan kepribadian

             b.       Kegiatan Inti   :           

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • Tanya jawab tentang pengertian sosialisasi
  • Tanya jawab tentang pentingnya proses sosialisasi
  • Menjelaskan tentang sosialisasi primer dan sekunder
  • Menjelaskan pengertian peran
  • Menjelaskan pengertian status sosial 
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  • Siswa mengungkapkan kelebihan dan kekurangan interaksi dengan menggunakan alat komunikasi maupun dengan cara dialog.
  • Refleksi   : Siswa dapat mempraktekkan sosialisasi dalam kelas

             Pertemuan 2         :

             a.       Pendahuluan :

                        –  Apersepsi                : Menjelaskan penyebab terjadinya sosialisasi

                        –    Motivasi :Siswa dapat bertukar pendapat mengenai Menyebutkan faktor yang mempengaruhi sosialisasi

        

             b.       Kegiatan Inti :

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • Menyebutkan fungsi sosialisasi dalam pembentukan kepribadian
  • Menyebutkan media sosialisasi
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

 

  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  • Siswa mengungkapkan kelebihan dan kekurangan interaksi dengan menggunakan alat komunikasi maupun dengan cara dialog.
  • Refleksi   : siswa mampu mengungkapkan kesan arti pentinya sosialisasi                    

         Pertemuan 3        :

         a.    Pendahuluan

                Apersepsi   :       Faktor-faktor sosialisasi

                Motifasi      :        Cerita tentang arti pentingya bersosialisasi

         b.   Kegiatan Inti

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • siswa dapat membedakan sosialisasi di keluarga, sekolah dan masyarakat
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • Siswa dibagi menjadi tiga kelompok

                                Kelompok 1 memperagakan bentuk sosialisasi dalam keluarga

                                Kelompok 2 memperagakan bentuk sosialisasi dalam kelas

                                Kelompok 3 memperagakan bentuk sosialisasi dalam masyarakat

  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,
  • memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,
  • memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,
  • memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
    • berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
    • membantu menyelesaikan masalah;
    • memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
    • memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
    • memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  1. E.        SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN :
    1. Buku sosiologi yang relevan
    2. Surat kabar
    3. Gambar lingkungan keluarga
    4. F.        PENILAIAN :
      1. Jelaskan pengertian sosialisasi!
      2. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi sosialisasi!
      3. Sebutkan norma-norma yang ada dalam masayrakat!
      4. Jelaskan akibat jika niali-nilai sosial dalam masyarakat tidak diindahkan
      5. jelaskan hubungan sosialisasi dengan pembentukan kepribadian
      6. Bgaimana peran keluarga dalam proses sosialisasi
      7. Bagaimana fungsi nilai bagi sosialisasi

 

 

Guru Pamong

 

 

MUDARNIS,S.Pd

NIP.19611009 198301 2005

 

PAKAN RABAA,   JULI 2013

Mahasiswa PL

 

 

ZETRIA AFNIATI

NIM.1010007933207

 

 

Mengetahui

Kepala Sekolah SMP N 1

LAREH SAGO HALABAN

 

 

M.YUSUF LUBIS,S.Pd

NIP.1968417 1994121002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Nama Sekolah                       :     SMP 1 LAREH SAGO HALABAN

Mata Pelajaran                     :       Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / Semester                  :       VII / 1

Standar Kompetensi           :       2.       Memahami kehidupan sosial manusia

Kompetensi Dasar               :       2.3.   Mengidentifikasi bentuk interaksi sosial 

Indikator                                  :  2.3.1 menjelaskan syarat-syarat terjadinya interaksi sosial

                                                       2.3.2 mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial

Alokasi Waktu                       :       6 jam pelajaran ( 3 x pertemuan )

 

  1. A.       TUJUAN PEMBELAJARAN*  :

     Setelah selesai melaksanakan kegiatan pembelajaran, siswa dapat :

     1.  Menjelaskan syarat-syarat proses terjadinya inetraksi sosial

     2.  Menyebutkan bentuk-bentuk interaksi sosial

 

Karakter siswa yang diharapkan :    

  • Gemar membaca
  • Rasa hormat dan perhatian
  • Rasa ingin tahu
  • Kreatif
  1. B.       MATERI  PEMBELAJARAN    :

         1.    Proses terjadinya interaksi sosial

         2.    Syarat terjadinya interaksi sosial

         3.    Bntuk-bentuk interaksi sosial antara individu dengan individu, individu dengan keluarga dan kelompok dengan kelompok

  1. C.       METODE PEMBELAJARAN    :

         1.   Ceramah bervariasi

         2.   Diskusi

         3.   Inquiry

         4.   Tanya jawab

         5.   Simulasi

         6.   Observasi / pengamatan

  1. D.       LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN    :

         Pertemuan I :

         a.  Pendahuluan

                –      Apersepsi    : Tanya jawab tentang syarat terjadinya interaksi sosial

                –      Motivasi       : Membedakan bentuk-bentuk interaksi sosial            

         b. Kegiatan Inti        :

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • Siswa dapat menjelaskan syarat terjadinya interaksi sosial
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • Tanya jawab tentang proses terjadinya interaksi sosial
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

         Pertemuan 2             :

         a.    Pendahuluan    :

                –      Apersepsi    : membedakan bentuk-bentuk interaksi sosial

                –      Motivasi       : Memberi contoh bentuk interaksi sosial antara individu dengan individu

         b. Kegiatan Inti        :

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • siswa mampu membedakan bentuk-bentuk interaksi sosial
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • Memberi contoh bentuk interaksi sosial antara individu dengan kelompok
  • Memberi contoh bentuk interaksi sosial antara kelompok dengan kelompok  
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

 

 

 

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik.

         Pertemuan 3        :

         a.    Pendahuluan

                Apersepsi      : Tanya jawab tentang Bntuk-bentuk interaksi sosial antara individu dengan  individu, individu dengan keluarga

                Motifasi          : Menunjukkan contoh gambar bentuk-bentuk interaksi sosial

         b.   Kegiatan Inti

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • siswa mampu menjelaskan tentang bentuk-bentuk interaksi sosial
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • Diskusi tentang bentuk-bentuk interaksi sosial
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,
  • memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,
  • memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,
  • memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
    • berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
    • membantu menyelesaikan masalah;
    • memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
    • memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
    • memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

 

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

 

  1. E.        SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN          :

1.    Buku sosiologi yang relevan

        2.    Surat kabar

        3.    Gambar lingkungan keluarga

  1. F.        PENILAIAN :

Indikator Pencapaian Kompetensi

Penilaian

Teknik

Bentuk

 Instrumen

Contoh

Instrumen

  • Menjelaskan syarat-syarat terjadinya interaksi sosial.

 

 

 

 

 

  • Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial.

 

 

Tes tulis

 

 

 

 

 

 

Tes unjuk kerja

Pilihan ganda

 

 

 

 

 

 

Tes petik kerja prosedur dan produk

Contoh interaksi sosial berikut ini adalah ….

a.Guru mengajar siswa

b.Petani menyiram tanaman

c. Pawang melatih gajah

d.Sopir menyetir taksi

 

Buatlah kliping berita dari media cetak, masing-masing lima contoh peristiwa tentang interaksi sosial antar :

–        individu dengan individu

–        individu dengan kelompok

–        kelompok dengan kelompok

 

 

Guru Pamong

 

 

MUDARNIS,S.Pd

NIP.19611009 198301 2005

 

PAKAN RABAA,   JULI 2013

Mahasiswa PL

 

 

ZETRIA AFNIATI

NIM.1010007933207

 

 

Mengetahui

Kepala Sekolah SMP N 1

LAREH SAGO HALABAN

 

 

M.YUSUF LUBIS,S.Pd

NIP.1968417 1994121002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 (RPP)

Nama Sekolah                           :     SMP N 1 LAREH SAGO HALABAN

Mata Pelajaran                         :      Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / Semester                     :      VII / 1

Standar Kompetensi              :      2.     Memahami kehidupan sosial manusia

Kompetensi Dasar                   :      2.4.  Menguraikan proses interaksi sosial

Indikator                                     :  2.4.1 mengidentifikasi proses sosial asosiatif

                                                           2.4.2  memberi contoh proses asosiatif

Alokasi Waktu                           :      6 jam pelajaran

 

  1. A.       TUJUAN PEMBELAJARAN    :

         Setelah selesai melaksanakan kegiatan pembelajaran, siswa dapat :

     1.  Menjelaskan proses sosial asosiatif

     2.  Menyebutkan proses sosial yang disosiatif

 

Karakter siswa yang diharapkan :    

  • Gemar membaca
  • Rasa hormat dan perhatian
  • Rasa ingin tahu
  • Kreatif
  1. B.      MATERI  PEMBELAJARAN    :

         1.   Proses sosial asosiatif

         2.   Proses sosial disosiatif

         3.   Perbedaan proses sosial asosiatif dan dis asosiatif

4.   Contoh bentuk proses sosial asosiatif

5.   Contoh bentuk proses sosial dis asosiatif

  1. C.      METODE PEMBELAJARAN    :

         1.   Ceramah bervariasi

         2.   Diskusi

         3.   Inquiry

         4.   Tanya jawab

         5.   Simulasi

         6.   Observasi / pengamatan

  1. D.     LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN    :

        Pertemuan I :

        a.  Pendahuluan

        –      Apersepsi           : Tanya jawab mengenai bentuk-bentuk proses sosial asosiatif            

                –      Motivasi       : Menunjukkan contoh gambar proses sosial disosiatif

 

         b.   Kegiatan Inti      :

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • Siswa mampu memberi contoh bentuk proses disosiatif
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

      Pertemuan 2                :

      a.      Pendahuluan    :

                –      Apersepsi    : Tanya jawab tentang proses sosial asosiatif

                –      Motivasi       : Menyebutkan tentang bentuk-bentuk proses sosial disosiatif  

      b.      Kegiatan Inti      :                    

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • siswa mampu menjelaskan pengertian proses sosial asosiatif dan disosiatif
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

      Pertemuan 3 :

      a.      Pendahuluan

                Apersepsi                 :     memberi contoh proses sosial asosiatif

                Motifasi                    :     Menunjukkan contoh gambar proses sosial asosiatif

      b.      Kegiatan Inti

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • siswa mampu menyimpulkan hasil diskusi tentang proses sosial disosiatif
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • Diskusi tentang proses sosial asosiatif dan disosiatif
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,
  • memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,
  • memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,
  • memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
    • berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
    • membantu menyelesaikan masalah;
    • memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
    • memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
    • memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  1. E.      SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN          :

1.    Buku sosiologi yang relevan

        2.    Surat kabar

        3.    Gambar lingkungan keluarga

 

  1. F.      PENILAIAN :              

Indikator Pencapaian Kompetensi

Penilaian

Teknik

Bentuk

 Instrumen

Contoh

Instrumen

  • Mengidentifikasi proses sosial asosiatif .

 

  • Memberi contoh proses sosial disosiatif.

Tes tulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tes unjuk kerja

Tes Uraian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Panduan observasi

Jelaskan apa yang dimaksud dengan kerjasama!

 

Interaksi sosial akan terwujud apabila terjadi…..

 

Identifikasi adalah……

 

Syarat terjadinya interaksi adalah……

faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial adalah…..

 

komunikasi dapat menghasilkan kerja sama apabila…..

 

dalam kehidupan sosial, manusia dituntut melakukan interaksi sosial berdasarkan….

 

Turut berduka cita saat tetangga berkabung, termasuk….

 

dampak positif terjadinya proses imitasi adalah……

 

komunikasi akan bersifat positif apabila…..

 

keinginan seseorang untuk sama dengan orang lain disebut…..

 

Cobalah identifikasi contoh dan proses sosial disosiatif yang terjadi di lingkungan masyarakatmu!

 

 

 

Guru Pamong

 

 

MUDARNIS,S.Pd

NIP.19611009 198301 2005

 

PAKAN RABAA,   JULI 2013

Mahasiswa PL

 

 

ZETRIA AFNIATI

NIM.1010007933207

 

 

Mengetahui

Kepala Sekolah SMP N 1

LAREH SAGO HALABAN

 

 

M.YUSUF LUBIS,S.Pd

NIP.1968417 1994121002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

( RPP )

Nama Sekolah                           :     SMP N 1LAREH SAGO HALABAN

Mata Pelajaran                         :      Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Kelas / Semester                     :      VII / 1

Standar Kompetensi              :      3.     Memahami usaha manusia memenuhi  kebutuhan.

Kompetensi Dasar                   :      3.1. Mendidkripsikan manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral dalam memenuhi kebutuhan.

Indikator                                     : 3.1.1 mendefinisikan makna manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi yang bermoral

                                                          3.1.2 mengidentifikasi ciri-ciri makhluk sosial dan makhluk ekonomi yang bermoral

                                                          3.1.3 mewujudkan hubungan yang harmonis antar manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral

Alokasi Waktu                           :      8 Jam pelajaran

 

  1. A.       TUJUAN PEMBELAJARAN   :

                   Setelah selesai melakukan kegiatan pembelajaran, diharapkan siswa dapat  :

  1. Mendiskripsikan hakekat manusia sebagai makhluk sosial.
  2. Mendiskripsikan hakekat manusia sebagai makhluk ekonomi yang bermoral.
  3. Mengidentifikasi makna manusia sebagai makhluk sosial.
  4. Mengidentifikasi makna manusia sebagai makhluk ekonomi yang bermoral
  5. Mengidentifikasikan ciri-ciri makhluk sosial
  6. Mengidentifikasikan ciri-ciri makhluk ekonomi yang bermoral.
  7. Mendemontrasikan hubungan yang harmonis antar manusia sebagai mahkluk antar manusia sebagai makhluk sosial.
  8. Mendemontrasikan hubungan yang harmonis antar manusia sebagai mahkluk antar manusia sebagai makhluk ekonomi yang bermoral.

Karakter siswa yang diharapkan : Disiplin

    Rasa hormat dan perhatian

    Tekun

    Tanggung jawab

    Ketelitian

 

  1. B.       MATERI PEMBELAJARAN
    1. Hakekat Manusia sebagai makhluk sosial.
    2. Hakekat manusia sebagai mahkluk ekonomi.
    3. Pengertian manusia sebagai makhluk sosial
    4. Pengertian manusia sebagai makhluk ekonomi yang bermoral.
    5. Ciri-ciri manusia sebagai makhluk sosial
    6. Ciri-ciri manusia sebagai makhluk ekonomi yang bermoral.
    7. Contoh-contoh tindakan manusia sebagai makhluk sosial.
    8. Contoh-contoh tindakan manusia sebagai makhluk ekonomi yang bermoral.

 

  1. C.       METODE  PEMBELAJARAN
    1. Ceramah bervariasi            
    2. Diskusi                              
    3. Inquiri                                   
    4. Tanya jawab
    5. Simulasi
    6. Observasi / Pengamatan
    7. D.       LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN   
      1. 1.     Pertemuan 1

a.    Pendahuluan

–         Apersepsi        :       Guru memberikan tentang gambaran kegiatan  manusia dalam kehidupan sehari-hari.

–         Motivasi           :       *     Siswa diminta untuk saling bertukar informasi  tentang gambaran kegiatan manusia dalam kegiatan sehari-hari dengan temannya.

                                                    * Alat bantu  yang dapat memudahkan untuk menemukan gambaran kegiatan yang dapat dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari tersebut ?

  1. b.      Kegiatan inti
  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • Siswa mengungkapkan kesan terhadap pentingnya mempelajari hakekat manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral.
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • Siswa dibagi dalam empat kelompok.
  • Setiap kelompok diberi tugas untuk mengamati kegiatan yang dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari di dunia nyata.
  1. Kelompok 1        :      Merangkum gambaran tentang kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Kelompok 2        :      Mengidentifikasi kegiatan manusia sebagi makhluk social dan makhluk ekonomi yang bermoral.
  3. Kelompok 3        :      Mendriskipsikan hakekat manusia sebagai makhluk social.
  4. Kelompok 4        :      Mendriskipsikan hakekat manusia sebagai makhluk  ekonomi yang bermoral.
  • Setiap kelompok membuat laporan hasil pengamatan.
  • Setiap kelompok mempresentasikan di depan kelas hasil pengamatannya.
  • Tanya jawab tentang perbedaannya.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

 

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  1. 1.       Pertemuan 2

a.    Pendahuluan

–         Apersepsi        :      Menjelaskan gambaran  makna manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi yang bermoral.

–         Motivasi           :      Menceritakan  tentang makna  manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi yang bermoral dalam kehidupan sehari-hari.

b.    Kegiatan inti

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • siswa menyimpulkan makna manusia sebagai makhluk sosial dan  makhluk ekonomi yang bermoral dalam kehidupan sehari-hari.
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

 

 

  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  1. 3.       Pertemuan 3

a.    Pendahuluan

–         Apersepsi        :       Menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan ciri-ciri makhluk sosial dan makhluk ekonomi yang bermoral dalam kehidupan sehari-hari.

–         Motivasi           :       Siswa diajak keluar kelas untuk mengamati orang-orang yang sedang terlibat dalam suatu kegiatan kemanusiaan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

b.  Kegiatan inti

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • Siswa membuat kesimpulan tentang ciri-ciri manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral.
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • Tanya jawab tentang ciri-ciri manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupan sehari-hari.
  • Tanya jawab tentang ciri-ciri manusia sebagai makhluk ekonomi yang bermoral dalam kehidupan sehari-hari.
  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  1. 4.       Pertemuan 4

a.    Pendahuluan

–         Apersepsi        :       Jelaskan bagaimana sikap manusia yang satu dengan manusia yang yang saat bertemu, baik dijalan, di kantor, di acara resepsi, di acara rapat atau ditempat-tempat lain.

–         Motivasi           :       Mengamati sikap manusia saat baru bertemu pada tempat-tempat tertentu.

b.    Kegiatan inti

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • Mendemontrasikan tindakan/sikap yang dilakukan masyarakat pada saat baru bertemu/berjumpa, baik dijalan, dikantor, dirumah saat bertamu, saat rapat, saat suasana berkabung dan sebagainya.
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,
  • memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,
  • memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,
  • memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
    • berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
    • membantu menyelesaikan masalah;
    • memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
    • memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
    • memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  • Refleksi   : Siswa menyampaikan kesan tentang sikap masyarakat saat baru berjumpa/bertemu baik di forum rapat, takziah, resepsi, kerjabakti, gotong royong dan sebagainya.
  1. E.        SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
    1. Foto-foto hasil dokumentasi kegiatan masyarakat.
    2. Kertas karton/ HVS
    3. Buku ekonomi yang relevan
    4. Lingkungan masyarakat ( sekolah, keluarga, RT, RW dan sebagainya )
    5. F.      PENILAIAN
  • Teknik penilaian

                                                          – Tes tertulis

                                                          – Tes unjuk kerja

  • Bentuk instrumen : tes uraian

 

Guru Pamong

 

 

MUDARNIS,S.Pd

NIP.19611009 198301 2005

 

PAKAN RABAA,   JULI 2013

Mahasiswa PL

 

 

ZETRIA AFNIATI

NIM.1010007933207

 

 

Mengetahui

Kepala Sekolah SMP N 1

LAREH SAGO HALABAN

 

 

M.YUSUF LUBIS,S.Pd

NIP.1968417 1994121002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

( RPP )

Nama Sekolah                           :     SMP N 1 LAREH SAGO HALABAN

Mata Pelajaran                         :      Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Kelas / Semester                     :      VII / 1

tandar Kompetensi                 :      3.         Memahami usaha manusia memenuhi  kebutuhan.

Kompetensi Dasar                   :      3.2.     Mengidentifikasi tindakan ekonomi berdasarkan motif dan prinsip ekonomi dalam berbagai kegiatan sehari-hari.

Indikator                                     : 3.2.1 mendeskripsikan prilaku manusia dalam memanfaatkan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidup ,dengan melakukan berbagai tindakan ekonomi

                                                          3.2.2 mendeskripsikan berbagai tindakan ekonomi rasionala yang dilakukan manusia

                                                          3.2.3 mendefinisikan pengertian motif dan prinsip ekonomi

                                                          3. 2 4 mengidentifikasi macam-macam motif dan prinsip ekonomi

                                                          3.2.5 mengidentifikasi manfaat /prinsip ekonomi dalam kehidupan sehari-hari

Alokasi Waktu                           :      6 Jam pelajaran

 

A.  TUJUAN PEMBELAJARAN   :

Setelah selesai mengikuti proses pembelajaran siswa diharapkan dapat :

  1. Mendiskripsikan perilaku manusia dalam memanfaatkan sumber daya yang terbatas dalam kegiatan sehari-hari.
  2. Menjelaskan tindakan ekonomi yang rasional dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Menjelaskan pengertian tentang motif ekonomidan prinsip ekonomi.
  4. Menyebutkan macam-macam motif ekonomi dan prinsip ekonomi.
  5. Mengamati kegiatan penduduk di sekitarnya berdasarkan motif ekonomi dan prinsip ekonomi.
  6. Menyebutkan 5 macam kegiatan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari yang berdasarkan prinsip ekonomi.
  7. Menyebutkan manfaat / pentingnya prinsip ekonomi dalam kehidupan sehari-hari

 

 

Karakter siswa yang diharapkan :    

  • Disiplin
  • Rasa hormat dan perhatian
  • Tekun
  • Tanggung jawab
  • Ketelitian

B.  MATERI PEMBELAJARAN

  1. Pemanfaatan sumberdaya ekonomi
  2. Tindakan ekonomi
  3. Pengertian motif dan prinsip ekonomi
  4. Macam-macam motif dan prinsip ekonomi
  5. Kegiatan/tindakan ekonomi sehari-hari berdasarkan motif dan prinsip ekonomi
    1. Manfaat/pentingnya prinsip ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.

 

C.  METODE PEMBELAJARAN

  • Ceramah
  • Tanya Jawab bervariasi
  • Observasi
  • Diskusi
  • Penugasan

LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN            

  1. 1.       Pertemuan 1

a.    Pendahuluan

–         Apersepsi         :     mengingatkan kembali tentang kelangkaan sumberdaya.

–         Motivasi            :     Ditampilkan gambar-gambar berbagai tindakan ekonomi yang rasional.

b.  Kegiatan inti

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • Mengarahkan siswa untuk membaca buku sumber.
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • Guru membagi dalam kelompok maksimal 5 siswa setiap kelompok untuk berdiskusi tentang perilaku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya yang terbatas.
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • Memberikan tugas rumah untuk membuat salah satu tindakan ekonomi yang rasional yang dapat dilakukan
  • Memberikan penguatan dari hasil tanya jawab maupun diskusi kelompok.
  • Membimbing siswa untuk memberikan refleksi.
  • Memberikan tes.
  • Memberikan tugas rumah pada siswa.
  1. 2.       Pertemuan 2

a.    Pendahuluan

–          Apersepsi        :      dialog tentang motif dan prinsip ekonomi.

–          Motivasi           :      ditampilkan gambar-gambar yang berkaitan dengan motif dan prinsip ekonomi.

b.    Kegiatan inti

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • Guru membagi kelompok maksimal 5 siswa dalam satu kelompok dengan tugas membahas :
    • Pengertian motif ekonomi
    • Menyebutkan macam-macam motif ekonomi
    • Pengertian prinsip ekonomi
    • Menyebutkan macam-macam prinsip ekonomi
    • Mempresentasikan hasil diskusi dari masing-masing kelompok.
    • Melakukan penilaian dari hasil pengamatan pelaksanaan diskusi dan presentasi.
    • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
    • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
    • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
    • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
    • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
    • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
    • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
    • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa
  • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  1. 3.       Pertemuan 3

a.    Pendahuluan

–          Apersepsi       :       Memeriksa kehadiaran siswa.

–          Motivasi          :       Mengajukan pertanyaan misalnya ”Apakah kamu pernah melakukan tindakan ekonomi yang berdasarkan motif dan prinsip ekonomi?

b.  Kegiatan inti

  • § Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

  • Mengamati kegiatan penduduk di sekitarnya berdasarkan motif ekonomi dan prinsip ekonomi.
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
  • § Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

  • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • Guru memandu siswa untuk melaksanakan diskusi disekitar sekolah.
  • Masing-masing kelompok mendikusikan tentang kegiatan yang dilakukan penduduk berdasarkan motif ekonomi.
  • Masing-masing kelompok mendiskusikan tentang kegiatan yang dilakukan penduduk berdasarkan prinsip ekonomi.
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
  • § Konfirmasi

 Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

  • memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,
  • memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,
  • memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,
  • memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
    • berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
    • membantu menyelesaikan masalah;
    • memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
    • memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
    • memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

c. Kegiatan Penutup

        Dalam kegiatan penutup, guru:

  • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;
  • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
  • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
  • Membuat kesimpulan bersama dari hasil diskusi dengan materi diatas.
  • Memberikan tugas individu pada siswa untuk mengimbangkan kegiatan ekonomi yang berdasarkan prinsip dan motif ekonomi.

E.  SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN

  1. Buku IPS Ekonomi
  2. Kertas gergaris / HVS
  3. Guru
  4. Lembar  Penilaian           
  5. Buku ekonomi yang relevan
  6. Lingkungan masyarakat ( sekolah, keluarga, RT, RW dan sebagainya )

 

  1. B.      PENILAIAN
  • Teknik penilaian

                                                          – Tes tertulis

                                                          – Tes unjuk kerja

  • Bentuk instrumen : tes uraian

 

Guru Pamong

 

 

MUDARNIS,S.Pd

NIP.19611009 198301 2005

 

PAKAN RABAA,   JULI 2013

Mahasiswa PL

 

 

ZETRIA AFNIATI

NIM.1010007933207

 

 

Mengetahui

Kepala Sekolah SMP N 1

LAREH SAGO HALABAN

 

 

M.YUSUF LUBIS,S.Pd

NIP.1968417 1994121002

 

 

 

sejarah sosial

BABAT DIPONEGORO DAN HUBUNGANNYA DENGAN KONSEP RATU ADIL

Konsep ratu adil akan diikuti dengan konsep Milenarianisme. Milenarianisme atau milenialisme adalah suatu keyakinan oleh suatu kelompok atau gerakan keagamaan, sosial, atau politik tentang suatu transformasi besar dalam masyarakat dan setelah itu segala sesuatu akan berubah kearah yang positif (atau kadang-kadang negatif atau tidak jelas). Milenialisme adalah suatu bentuk Milenarianisme spesifik berdasarkan suatu siklus seribu tahunan. Kelompok-kelompok milenarian biasanya mengklaim bahwa masyarakat masa kini dan para penguasanya korup, tidak adil, atau menyimpang. Karena itu mereka percaya bahwa mereka akan segera dihancurkan oleh suatu kekuatan yang dahsyat. Sifat yang berbahaya dari status quo ini selalu dianggap tidak dapat diubah tanpa adanya perubahan dramatis yang telah diharapkan.

Konsep Milenarisme ditemukan  Dalam alam pikiran Jawa yang mereka kenal dengan Ratu Adil. Dalam mitos Ratu Adil terdapat ramalan yang menyebutkan bahwa penderitaan yang dialami, seperti peningkatan beban pajak, harga hasil bumi merosot tajam, hukum dan pengadilan tidak berjalan semestinya, syariat Tuhan tidak lagi dijalankan, banyak orang akan tersingkir dan orang jahat akan berkuasa, pemerintahan tidak berjalan dengan baik dan rakyat semakin sengsara, banyak terjadi bencana alam, dan krisis-krisis sosial lainnya, akan hilang dengan datangnya Ratu Adil. Dengan demikian, Ratu Adil, dalam tradisi Jawa lebih bersifat politis, meskipun ada sedikit sebagai gerakan mistis (kebatinan). Mitos Ratu Adil ini terwujud dalam bentuk tampilnya seorang pemimpin, yang dianggap dapat menjadi tokoh yang menyelesaikan permasalahan atau krisis yang melanda. Zaman edan tidak mungkin diubah dengan cara lain kecuali menanti tokoh Ratu Adil tersebut.

Ratu Adil selalu mempribadi pada sosok individu. Beberapa sejarawan Belanda bahkan menggambarkan Ratu Adil sebagai pribadi yang digdaya dalam segala hal: jiwa nasionalisme, intelektualisme, daya religius yang serba briliyan dan perfeksionistis. Dr. G.W.J Drewes dalam tulisannya De drie javaansche Goeroe’s (1925) menyebutkan bahwa Pangeran Diponegoro juga dipercayai rakyat sebagai penjelmaan dari Ratu Adil. Legitimasi politis mitos Ratu Adil memang memiliki dampak positif jika digunakan untuk tujuan mulia.

Hal ini pernah ditangkap secara arif oleh pangeran Diponegoro. Untuk menguatkan bahwa seolah-olah dirinya adalah penjelmaan Ratu Adil, pangeran Diponegoro bahkan mengisahkan dalam Babad-nya bahwa dirinya memperoleh ilham untuk meneruskan peperangan setelah bertemu dengan apa yang disebutnya Ratu Adil. Sang pangeran telah ditakdirkan untuk berperang dalam merebut tanah Jawa. Legitimasi mitos ini pada akhirnya berhasil menggerakkan rakyat untuk melawan penjajah Belanda dengan nama perang Jawi. Pemberontakan paling besar dan paling lama penduduk pribumi atas pemerintahan belanda di Jawa.

 

Image

Malibo Anai

Malibo Anai

Aside

PENGARUH KEBIJAKAN JUGUN IANFU TERHADAP PEREMPUAN JAWAJugun ianfu

PENGARUH KEBIJAKAN JUGUN IANFU TERHADAP PEREMPUAN JAWA

Jugun ianfu adalah para perempuan yang dipaksa masuk bordil militer Jepang! Banyak di antara mereka yang masih berusia di bawah umur ketika direkrut secara paksa. Para jugun ianfu ini kebanyakan berasal dari Korea, Cina, Jepang, dan Filipina, tetapi jumlah mereka di Indonesia terutama dijawa pun tidak sedikit yaitu sekitar 5.000 – 20.000 orang.

juga secara paksa memobilisasi perempuan-perempuan Jawa untuk dijadikan sebagai budak seks pemuas nafsu serdadu-serdadunya, atau yang dikenal dengan sebutan jugun ianfu. Kondisi ekonomi Pribumi yang kian parah dan menuju titik terendah ini membuat orang, yang kadang secara tidak rasional, rela melakukan pekerjaan apapun demi mendapatkan upah sebagai penyambung hidup yang kian tak menentu. Penyakit masyarakat pun kian merebak, salah satunya ialah prostitusi. Bukan lagi menjadi rahasia bahwa prostitusi sudah menjadi bisnis jasa sejak kekuasaan Belanda bercokol di bumi Indonesia. Paper ini hendak mencari tahu keterkaitan antara jugun ianfu dengan praktek prostitusi pada masa Jepang memegang kendali atas Indonesia dalam kurun kurang lebih tiga setengah tahun, 1942-1945.

Jugun Ianfu dan Geliat Prostitusi Masa Pendudukan Jepang

Pengarahan masa atau mobilisasi rakyat Pribumi yang dilakukan oleh Jepang bukan saja memaksa keterlibatan dari jenis kelamin laki-laki, tetapi juga pada perempuan untuk menggenapi kepentingan-kepentingannya. Salah satunya ialah dengan pendirianFujinkai, organisasi yang didirikan pemerintah Jepang yang berfungsi untuk mengumpulkan para perempuan, baik yang sudah berkeluarga maupun belum, guna dijadikan sebagai penahan keadaan sosial ekonomi yang sedang buruk saat itu. Organisasi ini didirikan dengan harapan akan banyak memberikan berbagai penyuluhan dan kegiatan sosial lainnya secara rutin di kampung-kampung. Walaupun sebenarnya terlihat seperti hanya sebagai pemanis kekejaman Jepang.

Pengerahan perempuan Pribumi yang lain yang dilakukan Jepang adalah, seperti yang sebelumnya diterangkan secara singkat dalam pendahuluan, yaitu pengerahan untuk dijadikan sebagai pemuas nafsu birahi atau jugun ianfu kepada manusia dari matahari terbit tersebut, baik orang militer, maupun masyarakat sipil Jepang yang ada di Indonesia. Tetapi lain halnya dengan perempuan yang dimobilisasi ke dalam fujinkaiyang memang didirikan secara legal dan terbuka, jugun ianfu tidaklah demikian. Dalam A. Budi Hartono dan Dadang Juliantoro (1997), yang diartikan dengan jugun ianfu atau wanita penghibur adalah sebuah konsep yang menunjuk kepada mereka yang dinyatakan sebagai korban nafsu birahi tentara Jepang selama masa pendudukan Jepang di daerah-daerah jajahannya. Dengan demikian, keberadaanjugun ianfu tidak hanya berlangsung dan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di daerah-daerah di mana tentara Jepang datang dan berkuasa.

Pelacuran merupakan fenomena sosial yang senantiasa hadir di setiap putaran roda zaman dan keadaan. Keberadaan pelacuran tidak pernah selesai dikupas, apalagi dihapuskan. Walaupun demikian, dunia pelacuran setidaknya bisa mengungkapkan banyak hal tentang sisi gelap kehidupan manusia, tidak hanya menyangkut hubungan kelamin dan mereka yang terlibat di dalamnya, tetapi juga pihak-pihak yang secara sembunyi-sembunyi ikut menikmati dan mengambil keuntungan dari keberadaan pelacuran.

Awalnya perempuan-perempuan Cina dan Eropa, namun kemudian mulai marak dari kalangan Pribumi juga. Pelacur Pribumi umumnya dibayar lebih rendah daripada pelacur Cina dan Eropa. Penyakit sosial ini terus bertahan sampai ke masa pendudukan Jepang. Bahkan pada masa pendudukan Jepang, kegiatan prostitusi penduduk Pribumi menjadi semakin subur. Meskipun dilakukan secara tertutup, tetapi praktek ini dapat dilakukan secara terorganisir dengan begitu rapih. Jepang memanfaatkan kelicikannya dalam politik propaganda memobilisasi penduduk Pribumi, dengan cara memberikan iming-iming serta janji manis kepada perempuan Pribumi yang sesungguhnya telah tertipu daya akan dijadikan pelacur atau jugun ianfu.

 Apalagi kondisi ekonomi yang sangat buruk membuat masyarakat tidak mudah untuk berpikir jernih menghadapi wabah kelaparan. Iming-iming memperoleh pekerjaan atau dapat mengenyam bangku sekolah menjadi kata-kata manis Jepang yang sulit untuk ditolak. Tetapi Jepang tidak menjalankan kegiatan ini dengan tangannya sendiri, bagaimanapun ia ingin menjaga agar tangannya tetap terlihat bersih, siasat ini dijalankannya dengan menggunakan aparat Pribumi setempat, mulai dari kelompok masyarakat terkecil yaitu rukun tetangga, desa, lurah, camat, dan seterusnya, karena individu-individu inilah yang sesungguhnya memiliki pengaruh dan otoritas dalam masyarakat.

 Propaganda Jepang dalam melakukan penaklukan kesadaran atau hegemoni terhadap aparat tersebut dapat mencapai hasil, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menjadi kolaborator praktek kotor itu, baik secara sadar maupun tidak. Ini merupakan tragedi. Semuanya dijalankan secara terkendali dan dalam koordinasi pemerintah Jepang. Bentuk prostitusi pada zaman Jepang ini terstruktur rapi, mulai dari perekrutan, penyeleksian, penempatan di rumah bordil milik Jepang, hingga tamu-tamu yang harus dilayani, yang hampir semuanya adalah orang Jepang .

Penguasa militer Jepang mendirikan tempat-tempat yang dihuni jugun ianfu di setiap wilayah komando militer dengan tujuan untuk mencegah terjadinya pemerkosaan oleh tentara Jepang terhadap penduduk lokal, menjaga moral tentara Jepang, serta mencegah penyakit kelamin yang akan melemahkan kekuatan militernya. Perlu diberi garis tegas bahwa, pada masa pendudukan Jepang, orang-orang Indonesia yang menjadi pelacur ialah karena ada yang memang sengaja berkeinginan dalam pekerjaan tersebut, juga ada yang menjadi pelacur karena tertipu muslihat Jepang yang akhirnya menjadi jugun ianfu.

Tidak sedikit dari mereka yang tertipu dan akhirnya tercemplung menjadi jugun ianfu berasal dari keluarga aparat ataupun pegawai pangreh praja karena takut kehilangan pangkat dan jabatannya. Propaganda memberi iming-iming tentang mendapat pekerjaan ataupun pendidikan, tidak pernah dilakukan secara terbuka melalui media-media komunikasi masa seperti surat kabar ataupun radio, melainkan seperti halnya desas-desus yang melambung dari mulut ke mulut. Semua kegiatan terorganisir ini berada dalam wewenang Jawatan Propaganda Jepang atauSendenbu. Korban-korban yang tertipu menjadi jugun ianfu umumnya anak perempuan yang masih di bawah umur, dan gadis, tetapi ada juga sebagian yang sudah berkeluarga. Mereka juga kebanyakan perempuan yang berpendidikan rendah, bahkan tidak berpendidikan dan buta huruf.

Kesulitan ekonomi kerap menjadi alasan utama mereka yang tertipu, seperti yang diungkapkan oleh salah seorang mantanjugun ianfu, Ibu Lasiyem:

“… yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana bisa kerja. Saya ingin membelikan makanan untuk anak saya … karena itu ketika ada tawaran kerja saya langsung sanggup, … saya tidak bilang dengan suami saya”.

 Para korban yang tertipu ini baru akan sadar bahwa janji serta iming-iming tersebut tidak lain hanyalah selimut dari dijadikannya budak nafsu orang-orang Jepang setelah mereka sadar dibawa ke rumah bordil Jepang yang bernama Ian-jo, yang keketatannya selalu dalam pengawasan pemerintah Jepang. Adapun tarif yang dikenakannya berbeda-beda, diantaranya 2,5 Rupiah bagi kalangan militer pada jam siang, dan 3,5 Rupiah untuk orang sipil dimulai jam 5 sore sampai tengah malam, sedangkan untuk servis sampai pagi berbiaya 12,,5 Rupiah. Meskipun nampaknya para jugun ianfu mendapat penghasilan, tetapi kenyataannya yang diterimanya hanyalah karcis para pelanggan, yang seharusnya dapat ditukarkan dengan uang, tidak pernah terjadi. Ian-jo antara lain terdapat di bekas asrama peninggalan Belanda. kantong-kantong militer Jepang, dan rumah-rumah penduduk yang telah dikosongkan. Konsumen jugun ianfu baik dari kalangan militer maupun sipil akan diberikan kondom. Hal ini dilakukan untuk menghindari serdadu Jepang dari penyakit kelamin yang dapat melemahkan kekuatan militer Jepang. Pada prakteknya kebanyakan mereka tidak ingin memakai kondom, dengan alasan akan mengurangi kenikmatan berhubungan seksnya. Orang-orang Jepang umumnya lebih menyukai perempuan Eropa, seperti perempuan-perempuan Belanda yang terjebak di Indonesia dan ditawan oleh pihak Jepang.

Perempuan-perempuan di Ian-jo menjalani pemeriksaan kesehatan yang merendahkan martabat. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika para petugas medis menyuruh mereka membuka pakaian sampai akhirnya mereka telanjang bulat, lalu menggerayangi tubuh mereka. Selain itu, para perempuan budak seks ini melewati pemeriksaan yang sangat tidak bermoral, pemeriksa yang berasal dari Jepang itu memasukkan alat bernama cocor bebek, yang terbuat dari besi panjang ke dalam vagina jugun ianfu, kemudian ketika alat ini, bagian ujungnya akan melebar untuk membuka vagina. Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui apakah perempuan itu sudah terserang penyakit kelamin atau belum. Dalam novel berlatar sejarah berjudul Kembang Jepunkarangan Remy Sylado, digambarkan rumah-rumah bordil Jepang banyak yang berkedok restoran, dan para perempuan calon jugun ianfu itu dibawa ke tempat-tempat seorang “geisha untuk diberi arahan dan diajarkan berbagai hal tentang praktek menjadi pelacur. Pembahasan novel tersebut sangat menarik dengan plot, diksi dan gambaran cerita yang cukup vulgar. Hal lain yang menarik dari rumah bordil Jepang adalah adanya sistem penggantian sistem nama, dari nama Indonesia ke nama Jepang. Semua orang yang direkrut Jepang akan langsung diberi nama Jepang dan tidak boleh lupa menggunakannya. Misalnya seorang jugun ianfu seorang gadis Jawa yang bernama Mardiyem yang diberi nama Jepang Momoye. Ada juga Waginem dengan nama Jepang Sakura, dan Haruye nama Jepang dari Jatinem.

Selama pendudukan Jepang di Indonesia, terdapat tiga angkatan yang dijadikan sebagai budak seks Jepang atau jugun ianfu. Angkatan pertama berjumlah 24 perempuan, yang ditempatkan di Telawang, di pinggiran kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Angkatan kedua pada tahun 1943, berjumlah 35 orang. Dan angkatan ketiga pada pertengahan tahun 1944. Dari angkatan pertama hingga yang terakhir, ransum makanan yang diberikan kepada para budak seks Jepang semakin dikurangi nilai gizinya.

Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang menjadi magnet pagi para pendatang dari daerah-daerah. Orang-orang yang merantau ke kota-kota besar ini memiliki anggapan dan harapan bahwa mereka dapat mengubah keberuntungannya, mengubah nasibnya yang buruk menjadi lebih baik, sebab kota-kota besar memiliki sentra ekonomi yang lebih luas dan menjanjikan. Padahal anggapan dan harapan tidak selalu tepat dengan kehendak, kenyataan selalu bisa berkata lain. Niat memperbaiki kualitas hidup malah terjadi berkebalikan. Para perempuan yang dijadikan sebagai jugun ianfu telah mengalami beban siksaan yang berat, tidak hanya menyebabkan cacat fisik akibat siksaan-siksaan dari orang Jepang yang dilayaninya, juga siksaan batin yang tak berkesudahan membuatnya trauma dalam berhubungan seksual.

Seorang jurnalis perempuan Hilde Janssen bersama sahabatnya fotografer Jan Banning, warga Belanda, baru-baru ini menggelar pameran foto mengenai para jugun ianfu Indonesia. Pameran ini mengungkapkan kembali luka lama dan trauma akibat pendudukan Jepang selama Perang Dunia Kedua. Janssen berhasil mewawancarai 50 perempuan mantan jugun ianfu. Ia mengakui sempat dihantui mimpi buruk karena berulang kali mendengar kisah mereka. Misalnya saja Paini yang sejak berumur 13 tahun dipaksa bekerja di sebuah tangsi dekat desanya. Suatu malam ia dijemput paksa oleh serdadu Jepang, dibawa ke tangsi, dan diperkosa berulang-ulang. Begitu terus setiap malam. Begitu dalam trauma yang mereka alami sehingga kebanyakan mantan jugun ianfu ini menyembunyikan identitas mereka dan menolak untuk berbicara.

Sampai saat ini para mantan jugun ianfu masih merasa trauma dan sangat menderita akibat pengalaman buruk yang mereka alami. Belum lagi cap negatif yang kadang dilekatkan pada mereka. Mungkin yang paling mengenaskan adalah sikap pemerintah Indonesia yang menganggapnya aib (Tempo, 5 September 2010). Inikah harga yang harus dibayar oleh perempuan-perempuan tersebut untuk negeri mereka?